33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Dianggap Kelenteng Tiban dari Langit

Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Awal Juli 1923, warga Tionghoa di Semarang dikejutkan dengan kabar adanya kelenteng yang jatuh dari langit. Orang-orang menganggap kelenteng yang ada di daerah Sompok tersebut sebagai kelenteng tiban.

LIEM Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang (1931) menulis penemuan kelenteng tersebut sebagai berikut: ”Kira di permoela’an boelan Juli 1923 tatkala Gemeente bikin loeas kampoeng kampoeng di Sompok, di bagian sabelah Wetan, di tengahnja groemboelan jang lebet telah diketemoeken satoe klenteng koeno, jang soedah tida terawat lagi.”

Anggapan warga bahwa kelenteng tersebut jatuh dari langit dipatahkan Liem Thian Joe. Kelenteng tersebut merupakan peninggalan orang-orang Lam-oa dan Hoei-oa (Hokkian) yang didirikan pada 1907 untuk upacara sembahyang leluhur. Tapi kelenteng ini sempat ditinggalkan bahkan dilupakan. Bangunan tertutup semak belukar dan ilalang. Hingga akhirnya ditemukan oleh pekerja suruhan pemerintah Hindia Belanda saat itu yang ingin memperluas permukiman di daerah Sompok.

Kelenteng yang sudah berusia 109 tahun tersebut, saat ini masih kokoh berdiri di Jalan Lampersari 74, tepatnya di depan Gereja Mater Dei. Meski nama resminya Kelenteng Hwie Tek Bio, tapi masih ada masyarakat yang menyebutnya sebagai Kelenteng Tiban.

”Kami berhubungan baik dengan pihak pengelola gereja. Bahkan setiap gereja sedang ada perayaan, lahan di depan kelenteng kami sewakan untuk dijadikan tempat parkir jemaat Mater Dei,” ucap pengelola Kelenteng Hwie Tek Bio, Bambang Jos.

Bangunan kelenteng masih asli tanpa adanya perubahan. Hanya beberapa pohon tua yang hilang karena tumbang secara alami. Di pintu gerbang terdapat papan bertuliskan 1907 Hwie Tek Sie 2456 menunjukkan angka tahun pembangunan kelenteng ini.

Hwie Tek Bio merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi. Tidak ada patung dewa lain di kelenteng ini selain Hiauw Ciang Kong. Umat yang datang biasanya berdoa bagi orang tua yang telah meninggal dunia, untuk kesehatan, atau masalah pekerjaan. Tak jarang yang datang untuk meminta tolak bala.

KELENTENG TIBAN: Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang dianggap sebagai kelenteng tiban yang jatuh dari langit. (Nurchamim@radarsemarang.com)
KELENTENG TIBAN: Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang dianggap sebagai kelenteng tiban yang jatuh dari langit. (Nurchamim@radarsemarang.com)

”Biasanya di sini ya untuk kesejahteraan dalam hidup, kaitannya sama pekerjaan dan sebagainya, karena kan mintanya sama Dewa Bumi,” cerita Bambang yang hampir 10 tahun mengurus Hwie Tek Bio.

Di sisi kiri, terdapat bangunan rumah abu Hwie Tek Sie. Meski demikian, tidak ada abu jenazah yang disimpan di tempat itu. Sebagai gantinya adalah nama-nama orang meninggal yang ditulis di potongan-potongan kayu dan ditempel pada papan.

Tepat di belakang rumah abu terdapat sebuah batu besar dan altar untuk meletakkan dupa serta sesaji. Batu tersebut diyakini sebagai penjaga tanah wilayah itu.

Bambang menceritakan, ada kepercayaan masyarakat Lampersari, Sompok dan sekitarnya, di kelenteng tersebut sering terlihat wujud harimau putih. Hewan itu diyakini sebagai tunggangan Dewa Bumi dari Kelenteng Hwie Tek Bio yang sedang berkeliling dan tidak akan mengganggu.

”Dulu pernah ada yang berniat jahat ke sini, masuk lewat pagar yang dibengkokkan, tapi saat mau keluar dia tidak bisa dan hanya berputar-putar saja di kompleks kelenteng,” kata Bambang.

Tidak ada perayaan besar yang dilakukan di kelenteng ini, kecuali dua hari utama yang diperingati dengan ritual sembahyangan. Yaitu ulang tahun Dewa Bumi pada tanggal 2 bulan kedua penanggalan Imlek (Jie gwie) dan hari berterima kasih tanggal 15 bulan 8 (pek gwee cap go). Begitu pula menjelang Imlek, hanya akan dilakukan sembahyang pada malam sebelum pergantian tahun.

”Jelang Imlek tidak ada persiapan khusus, cuma dibersihkan saja karena nanti kan untuk sembahyang orang banyak,” katanya. (afiati tsalitsati/ton/ce1)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

970 Siswa SMP Meriahkan Lomba MAPSI

DEMAK-Lomba mata pelajaran dan seni Islami (MAPSI) ke-6 yang digelar oleh musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) tingkat SMP se-Demak di Pendopo Kabupaten Demak, Minggu...

Jateng Diusulkan JadiTuan Rumah ASG

SEMARANG - Jateng dinilai sukses dalam menjalankan gelaran Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XIV/ 2017. Dengan jumlah anggaran yang tidak terlalu banyak dari pusat,...

Pemkot Komitmen Berantas Pungli

PEKALONGAN -  Guna meminimalisir dan tegaskan komitmen berantas pungutan liar (Pungli) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli)...

Korpri UM Magelang Gelar Bakti Sosial

MUNGKID - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), Sub Unit Korpri UM Magelang menggelar kegiatan bakti sosial, Sabtu...

4 Toko Modern Akan Ditutup Paksa

KAJEN- Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan sudah menentukan waktu penutupan 4 toko modern berjejaring nasional yang melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan No 1...

TNI Dingatkan Tetap Netral

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG - Dandim 0705/Magelang Letkol Inf Hendra Purwanasari mengingatkan anggotanya agar bisa menjaga netralitas menjelang gelaran Pilkada serentak 2018. Ia juga meminta agar...