PENJAGA KELENTENG: Bambang Jos di Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang sudah berusia 109 tahun. (Nurchamim@radarsemarang.com)
PENJAGA KELENTENG: Bambang Jos di Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang sudah berusia 109 tahun. (Nurchamim@radarsemarang.com)

Awal Juli 1923, warga Tionghoa di Semarang dikejutkan dengan kabar adanya kelenteng yang jatuh dari langit. Orang-orang menganggap kelenteng yang ada di daerah Sompok tersebut sebagai kelenteng tiban.

LIEM Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang (1931) menulis penemuan kelenteng tersebut sebagai berikut: ”Kira di permoela’an boelan Juli 1923 tatkala Gemeente bikin loeas kampoeng kampoeng di Sompok, di bagian sabelah Wetan, di tengahnja groemboelan jang lebet telah diketemoeken satoe klenteng koeno, jang soedah tida terawat lagi.”

Anggapan warga bahwa kelenteng tersebut jatuh dari langit dipatahkan Liem Thian Joe. Kelenteng tersebut merupakan peninggalan orang-orang Lam-oa dan Hoei-oa (Hokkian) yang didirikan pada 1907 untuk upacara sembahyang leluhur. Tapi kelenteng ini sempat ditinggalkan bahkan dilupakan. Bangunan tertutup semak belukar dan ilalang. Hingga akhirnya ditemukan oleh pekerja suruhan pemerintah Hindia Belanda saat itu yang ingin memperluas permukiman di daerah Sompok.

Kelenteng yang sudah berusia 109 tahun tersebut, saat ini masih kokoh berdiri di Jalan Lampersari 74, tepatnya di depan Gereja Mater Dei. Meski nama resminya Kelenteng Hwie Tek Bio, tapi masih ada masyarakat yang menyebutnya sebagai Kelenteng Tiban.

”Kami berhubungan baik dengan pihak pengelola gereja. Bahkan setiap gereja sedang ada perayaan, lahan di depan kelenteng kami sewakan untuk dijadikan tempat parkir jemaat Mater Dei,” ucap pengelola Kelenteng Hwie Tek Bio, Bambang Jos.

Bangunan kelenteng masih asli tanpa adanya perubahan. Hanya beberapa pohon tua yang hilang karena tumbang secara alami. Di pintu gerbang terdapat papan bertuliskan 1907 Hwie Tek Sie 2456 menunjukkan angka tahun pembangunan kelenteng ini.

Hwie Tek Bio merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi. Tidak ada patung dewa lain di kelenteng ini selain Hiauw Ciang Kong. Umat yang datang biasanya berdoa bagi orang tua yang telah meninggal dunia, untuk kesehatan, atau masalah pekerjaan. Tak jarang yang datang untuk meminta tolak bala.

KELENTENG TIBAN: Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang dianggap sebagai kelenteng tiban yang jatuh dari langit. (Nurchamim@radarsemarang.com)
KELENTENG TIBAN: Kelenteng Hwie Tek Bio Lampersari yang dianggap sebagai kelenteng tiban yang jatuh dari langit. (Nurchamim@radarsemarang.com)

”Biasanya di sini ya untuk kesejahteraan dalam hidup, kaitannya sama pekerjaan dan sebagainya, karena kan mintanya sama Dewa Bumi,” cerita Bambang yang hampir 10 tahun mengurus Hwie Tek Bio.

Di sisi kiri, terdapat bangunan rumah abu Hwie Tek Sie. Meski demikian, tidak ada abu jenazah yang disimpan di tempat itu. Sebagai gantinya adalah nama-nama orang meninggal yang ditulis di potongan-potongan kayu dan ditempel pada papan.

Tepat di belakang rumah abu terdapat sebuah batu besar dan altar untuk meletakkan dupa serta sesaji. Batu tersebut diyakini sebagai penjaga tanah wilayah itu.

Bambang menceritakan, ada kepercayaan masyarakat Lampersari, Sompok dan sekitarnya, di kelenteng tersebut sering terlihat wujud harimau putih. Hewan itu diyakini sebagai tunggangan Dewa Bumi dari Kelenteng Hwie Tek Bio yang sedang berkeliling dan tidak akan mengganggu.

”Dulu pernah ada yang berniat jahat ke sini, masuk lewat pagar yang dibengkokkan, tapi saat mau keluar dia tidak bisa dan hanya berputar-putar saja di kompleks kelenteng,” kata Bambang.

Tidak ada perayaan besar yang dilakukan di kelenteng ini, kecuali dua hari utama yang diperingati dengan ritual sembahyangan. Yaitu ulang tahun Dewa Bumi pada tanggal 2 bulan kedua penanggalan Imlek (Jie gwie) dan hari berterima kasih tanggal 15 bulan 8 (pek gwee cap go). Begitu pula menjelang Imlek, hanya akan dilakukan sembahyang pada malam sebelum pergantian tahun.

”Jelang Imlek tidak ada persiapan khusus, cuma dibersihkan saja karena nanti kan untuk sembahyang orang banyak,” katanya. (afiati tsalitsati/ton/ce1)