11 Tahun, Diterjang Longsor 3 Kali

423
BERBAHAYA : Hujan deras selalu menjadikan Junaedi khawatir. Bagian belakang rumahnya sudah tiga kali ini, diterjang bencana longsor. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
BERBAHAYA : Hujan deras selalu menjadikan Junaedi khawatir. Bagian belakang rumahnya sudah tiga kali ini, diterjang bencana longsor. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN–Perasaan was-was selalu menghantui benak Junaedi, 48, jika hujan deras mengguyur. Junaedi sejak tahun 2006 tinggal di lingkungan Susukan Siroto, RT 5 RW 2, Kelurahan Susukan, Ungaran Timur. Namun, area rumah kediamannya sudah tiga kali terkena tanah longsor.

Beruntung amukan alam ini tidak sampai meruntuhkan bangunan rumah. “Mau bagaimana lagi mas, pindah juga tidak ada dana. Ya antara takut dan tidak, terpaksa bertahan dengan kondisi seadanya,” kata bapak dua anak ini, Kamis (26/1) kemarin.

Tiga kali longsor, semuanya nyaris mengenai bangunan belakang rumah Junaedi. Longsor pertama terjadi pada tahun 2014, talud belakang rumah sepanjang 12 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter ambrol paskahujan deras mengguyur. “Beberapa waktu kemudian taludnya dibangun lagi, dibantu oleh pemerintah,” ujar dia.

Belum genap tiga tahun, talud tersebut kembali ambrol pada Minggu (15/1) lalu. Kali ini dampak longsoran sudah merambah teras belakang rumah dan hanya menyisakan tanah selebar sekitar satu meter. Mencegah longsor susulan, titik longsor ditutup dengan sebuah terpal hitam.

“Pada longsor kedua, kandang ayam berikut lima ekor ayam hilang karena terbawa material tanah yang longsor. Teras rumah belakang yang biasa digunakan untuk aktivitas memasak juga ikut ambrol,” katanya.

Terbaru, longsor pada Kamis dini hari (26/1) sekitar pukul 00.15. Titik longsor beda, masih di kawasan belakang rumah Junaedi tapi berada di tebing seberang berjarak sekitar lima meter dari lokasi dua kali longsor sebelumnya. “Pohon bambu berukuran besar di pinggir tebing seberang ikut kena longsor, ambrol sampai ke akarnya. Hampir saja mengenai bangunan rumah,” katanya.

Dua kali kejadian longsor terakhir sudah dilaporkan ke pihak terkait. Bahkan Kapolres Semarang AKBP V Thirdy Hadmiarso beserta pejabat Pemkab Semarang sudah melihat dari dekat. Hanya saja, sampai sekarang bantuan untuk membenahi talud yang longsor tak kunjung datang. Junaedi hanya bisa berdoa, longsoran tanah di belakang rumahnya tidak melebar. Sebab rumah tersebut satu-satunya tempat dia berteduh bersama anak istri dan mertuanya.

“Untuk membangun talud, jelas kami tidak mampu. Penghasilan saya hanya cukup untuk hidup sekeluarga,” kata pria yang membuka usaha tambal ban dan bengkel sepeda motor di rumah tersebut.

Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Semarang Heru Subroto mengaku sudah mengecek lokasi longsor di belakang rumah Junaedi. “Sementara kita tutup terpal untuk mengurangi terkikisnya tanah. Ini kami baru menangani yang prioritas dulu,” katanya. (ewb/ida)