UNGARAN–Keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Dusun Soka, Desa Lerep dikeluhkan warga setempat. Pasalnya, tumpukan sampah sering membeludak hingga ke badan jalan, sehingga mengganggu pengguna jalan dan warga setempat.

Kaur Umum dan Perencanaan Desa Lerep, Dwi Lestari mengatakan bahwa membeludaknya sampah disebabkan pasokan dari warga wilayah lain. “Tidak hanya warga Desa Lerep saja, tetapi warga Ungaran juga banyak yang membuang di TPS itu,” ujar Dwi, Rabu (25/1) kemarin.

Keluhan warga sangat beralasan, mengingat beberapa waktu lalu Desa Lerep diresmikan sebagai salahsatu desa wisata di Kabupaten Semarang. Keberadaan TPS yang berada persis pada pintu masuk desa membuat citra desa wisata menjadi kurang baik.

Dikatakan Dwi, pasokan sampah berasal dari perumahan di sekitar Desa Lerep. Setiap dua hari sekali, pasokan sampah dari beberapa perumahan sekitar membanjiri TPS Desa Lerep. “Seringnya sampai membeludak hingga tengah jalan dan mengganggu pengendara,” tuturnya.

Saking banyaknya, tumpukan sampah juga kerap menyumbat selokan yang berada persis di pinggir TPS tersebut. Alhasil apabila terjadi hujan deras, air di selokan tidak bisa mengalir lancar dan cenderung meluap ke jalan. “Itu juga bisa membahayakan pengendara. Banyak warga yang ngomel karena itu,” katanya.

Beberapa kali pengirim pasokan sampah ditegur oleh pihak pemerintah Desa Lerep. Namun teguran tersebut tidak pernah digubris, pasokan sampah masih dikirim setiap dua hari sekali. “Pakainya mereka mobil bak terbuka. Setiap dua sampai tiga hari sekali dikirim ke TPS,” ujarnya.

Pihak desa mengkhawatirkan, hal tersebut akan membuat citra Desa Lerep sebagai desa wisata dapat tercoreng. “Mereka ngirim kesitu (TPS, red) juga tidak izin ke kita. Padahal TPS khan untuk warga desa kita,” ujarnya.

Hal tersebut ditambah dengan pengambilan sampah dari pihak Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang kerap telat. “Itu kan jalur menuju destinasi wisata juga. Kalau sudah penuh kita telepon DPU. Itupun kadang tidak direspon,” katanya.

Pihak desa berencana memasang penjaga di lokasi TPS tersebut. “Anggarannya memang belum ada, itu yang menjadi kendala kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Lerep Sumariyadi membenarkan jika banyak warga di luar desa tersebut yang memasok sampah di TPS Lerep. “Banyak juga warga dari Desa Keji dan Dea Kalisidi. Sambil melintas mereka lempar sampah,” ujarnya.

Dikatakan Sumariyadi, tidak sedikit pula warga dari beberapa perumahan di sekitar desa yang memasok sampah ke TPS tersebut. Karena TPS yang tidak begitu besar sehingga tidak bisa menampung banyak sampah. Alhasil, banyak warga sekitar yang hanya meletakkan di pinggir TPS. Bahkan tidak jarang, sampah sampai memakan badan jalan.

“Kami sudah sampaikan ke DPU agar durasi pengambilan sampah ditambah, namun belum dilakukan. Akibatnya tidak jarang banyak sampah yang tercecer keluar,” tuturnya.

Pihak Pemerintah Desa Lerep juga sempat mengajukan proposal ke pihak DPU untuk perluasan TPS tersebut. “Selain itu dalam proposal juga tertulis permohonan agar TPS dibuat agak kedalam, agar semua orang tidak buang seenaknya saja,” katanya.

Ditetapkannya Desa Lerep menjadi salahsatu desa wisata menurutnya harus diimbangi dengan kebersihan dan ketertiban lingkungan. “Dengan kondisi sampah di TPS yang sering berantakan, itu bisa mengurangi minat pengunjung untuk datang ke desa wisata Lerep,” katanya. (ewb/ida)