Polres Karanganyar Bidik Tersangka

Izin Diksar Mapala UII Cacat

1407

KARANGANYAR – Selama empat hari penyelidikan, Polres Karanganyar telah memeriksa 21 saksi dan menyita barang bukti kasus dugaan penganiayaan dalam kegiatan pendidikan dasar (diksar) The Great Camping (TGC) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, para saksi tersebut terdiri atas kerabat tiga mahasiswa UII Jogjakarta yang meninggal dunia, serta sejumlah peserta diklat. Dari pemeriksaan awal, terdapat indikasi tindak kekerasan selama pelaksanaan diksar.

”Ditemukan adanya dugaan kekerasan selama pelaksanaan diklat sehingga mengakibatkan tiga mahasiswa meninggal,” jelas Ade kemarin (25/1).

Tiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Fadli, 20, yang meninggal Jumat (20/1) setelah sempat dirawat di Puskesmas Tawangmangu. Disusul Syaits Asyam, 19, Sabtu (21/1) dan terakhir Ilham Nurfadmi Listia Adi, 20 yang meninggal Senin malam (23/1).

Permintaan visum et repertum (VER) dan otopsi sudah dilayangkan ke RSUD Karanganyar, RS Bethesda Jogjakarta, dan RSUP Dr Sardjito Jogjakarta. ”Kita masih menunggu hasil VER maupun otopsi dari tiga rumah sakit ini. Pihak RS Bethesda dan RS dr Sardjito menyatakan ditemukan luka di sekujur tubuh korban yang diduga karena kekerasan. Dari kepala, tangan, hingga kaki,” ungkap Ade.

Sedangkan barang bukti hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) antara lain pakaian dan barang bawaan ketiga mahasiswa yang meninggal, serta alat atau barang yang diduga digunakan melakukan tindak kekerasan saat diksar.

Selanjutnya, penyidik segera menggelar perkara untuk menetapkan tersangka. ”Paling cepat minggu ini kita lakukan gelar perkara lalu tentukan tersangkanya,” jelas Ade.

Lebih lanjut diterangkan kapolres, pihaknya juga telah meminta pendapat ahli pidana dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk mengkaji surat pernyataan yang dibuat peserta diksar. ”Akan kita lihat pertangungjawaban pidana akibat timbulnya surat pernyataan tersebut,” terangnya.

Diketahui, berdasarkan keterangan Raihan Aflah, 20, kakak dari Abyan Razaki, 19, peserta diksar yang masih dirawat intensif di Jogjakarta International Hospital (JIH) menuturkan, panitia diksar menyodorkan surat pernyataan yang kurang lebih berisi tidak akan menuntut jika terjadi kondisi di luar perkiraan selama kegiatan diksar. Surat pernyataan tersebut dibubuhi meterai Rp 6.000.

Sementara itu, imbuh kapolres, izin pelaksanaan diksar belum lengkap. Kegiatan itu hanya mengantongi surat rekomendasi dari Polsek Tawangmangu dan belum mengurus izin secara lengkap di Satuan Intelkam Polres Karanganyar.

”Yang perlu kita garis bawahi di sini, kegiatan diksar UII sudah mengantongi rekomendasi dari Polsek Tawangmangu, namun belum ditindaklanjuti ke Sat Intelkam Polres Karanganyar sebagaimana prosedur mengadakan kegiatan,” bebernya.

Ade meminta rektorat UII kooperatif mengungkap kasus ini. ”Karena menutup-nutupi fakta dapat dijerat pasal pembiaran tindak kejahatan,” jelasnya.

Sementara itu, petaka pada diksar mapala UII Jogjakarta mengundang keprihatinan mendalam bagi mapala di Solo. Diantaranya diungkapkan anggota mahasiswa muslim pecinta alam (Malimpa) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Ibnu Syarifuddin.

Menurut mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informatika yang akrab disapa Geseng tersebut, kejadian di Karanganyar merupakan tamparan bagi semua mapala di Indonesia. “Kami memperketat aturan organisasi. Bahkan ditandatangani dan bermaterai baik oleh instruktur maupun peserta. Ini yang membuat instruktur tak bisa semena-mena. Kalau hukuman (fisik, Red) paling push-up atau lari. Tidak pakai kontak fisik,” kata dia.

Ketika menggelar diksar, imbuh Geseng, biasanya panitia kegiatan dibagi menjadi tiga tim. Yakni panitia inti (teknis dan standby), instruktur, dan operasional. Untuk menambah keamanan diksar, setiap kegiatan mapala juga melibatkan ALB (anggota luar biasa) atau mapala yang telah lulus dari pendidikannya.

Selain itu, jauh-jauh hari sebelum diksar, seluruh peserta melakukan latihan fisik secara rutin dua kali sepekan. Seperti lari, naik turun tangga, push-up dan sit-up. Termasuk penekanan materi Hutan Gunung sebagai materi wajib diksar. Terdiri atas medan peta dan kompas, SAR, survival, dan teknik panjat.

Ketua umum mapala Garba Wira Bhuana Universitas Sebelas Maret (UNS) Gama Prabowo menambahkan, pada 2011 ada peserta diksar yang meninggal karena hipotermia kegiatan mengikuti kegiatan di kawasan Candi Ceto,  Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Kronologisnya, sambung Gama, materi Hutan Gunung dilakukan selama sepekan. Pada saat itu, hujan deras terus mengguyur. Salah seorang peserta diksar Muhammad Adrian mulai menunjukkan mengalami gejala hipotermia atau kedinginan hingga menyebabkan nyawanya tak tertolong.

Karena itu, sejak 2012, mapala Garba Wira Bhuana membenahi standar diksar. Yakni melibatkan tenaga medis yang ikut mengawal peserta selama kegiatan berlangsung. ”Kebetulan ALB kami ada yang dokter. Jadi sangat terbantu,” tutur Gama. (ves/adi/wa)