WONOSOBO – Jalan utama menuju kampus Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) rusak parah. Kerusakan mulai dirasakan sejak masuk pertigaan Argopeni, kemudian titik terparahnya di Desa Ketinggring sepanjang 20 meter. Dari pantauan, hampir setiap hari, jalan yang rusak tersebut membentuk kubangan lantaran disekitar bahu jalan terdapat rembesan air.

Pengakuan warga yang punya usaha tak jauh dari jalan rusak, Asep Saefullah, dalam sepekan terakhir, kasus kecelakaan akibat tersungkur di lokasi tersebut sudah dua orang. Keduanya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. “Ya mungkin nggak parah, wong kabarnya nggak lama dirawat sudah diizinkan pulang oleh rumah sakit,” jelasnya.

Jalan rusak tersebut, dikatakannya merupakan jalan yang belum lama ditambal. Diduga, lantaran di atas bahu jalan terdapat rembesan air, membuat aspal tidak tahan lama. Kondisi itu, makin diperparah dengan tidak adanya saluran air di samping kiri kanan jalan.

“Aspal mulai rusak sskitar 3 bulanan lalu kira-kira,” jelas pemilik usaha bordir itu, Rabu (25/1).

Selain membahayakan keselamatan, kerusakan jalan juga menyebabkan mobilitas warga dan mahasiswa terganggu. Pengendara yang melintas harus rela antre melintasi jalan tersebut untuk jalan bergantian. Terlebih pada jam-jam sibuk. “Ini termasuk akses utama baik bagi mahasiswa maupun warga Mojotengah khususnya. Kalau bisa, harapan kami bisa segera dibetulkan,” katanya.

Fahruri, mahasiswa yang mengaku pernah mengalami kecelakaan di jalan tersebut mengatakan medan datar dan lurus dari arah kota kerap mengelabuhi pengendara. Akibatnya, pengendara yang tidak cermat akan tetap melaju kencang, tidak sadar jika di jalan tersebut terdapat lubang cukup dalam.

“Lihat saja, lubangnya seperti gitu, mau pakai motor apapun juga pasti njungkir, paling tidak itu, oleng kalau pas larinya kencang,” tuturnya.

Disampaikan pula, potensi kecelakaan di lokasi tersebut makin tinggi saat malam hari. Penyebabnya, selain tidak adanya penerang jalan, juga karena hampir seluruh bahu jalan berbentuk kubangan. Minimnya penerangan dan kubangan air, membuat pengendara sulit membedakan mana yang rusak dan yang tidak.

Fahruri melanjutkan, ke depan jika aspal tersebut akan ditambal, agar saluran air dan kualitas aspal menjadi prioritas. Tujuannya agar jalan lebih tahan lama dan tidak boros anggaran. “Harapan saya, bisa diperbaiki, saluran air dan kualitas aspal ditingkatkan. Daripada dikit dikit rusak. Dikit dikit rusak,” harapnya. (cr2/lis)