Ambulans Si Cepat Hanya Melayani Kegawatdaruratan

1007

SEMARANG – Program gratis ”Ambulans Si Cepat” yang di-launching pada 4 Januari 2017, merupakan upaya Pemkot Semarang untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Hingga saat ini sudah ada 36 warga yang memanfaatkan fasilitas pelayanan gratis tersebut.

Sebagai bentuk kontrol dan evaluasi pelayanan, Rabu (25/1) kemarin, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melakukan pengecekan di ruang kontrol Si Cepat, di kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK).

”Kita cek program pemerintah yang namanya Ambulans Si Cepat. Masyarakat melihat ini sebagai upaya pelayanan yang positif. Terbukti sejak kita luncurkan pada 4 Januari lalu sampai hari ini sudah ada 36 warga yang memakai fasilitas ini,” kata Hendi, sapaan akrabnya.

Tinjauannya tersebut juga menindaklanjuti aduan masyarakat yang tidak mendapat pelayanan ambulans. Hendi pun mengklarifikasi masalah tersebut kepada Kepala DKK Widoyono. ”Ada hal-hal yang harus disampaikan kepada masyarakat, sakit-sakit apa saja yang bisa dilayani dengan ambulans ini, karena kami melihat ada komplain dari masyarakat, sudah telepon tapi ambulansnya tidak berangkat. Dan ternyata dari hasil telepon itu dianalisa tim dokter, si pasien belum termasuk kategori kegawatdaruratan,” jelasnya.

Wali kota meminta OPD (organisasi perangkat daerah) terkait menyosialisasikan fungsi dari ambulans Si Cepat ini. Seperti hanya melayani warga yang kondisinya gawat darurat. Pasien akan mendapat penanganan darurat hingga merujuk ke rumah sakit. ”Perlu sosialisasi yang masif agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat program Si Cepat ini,” harapnya.

Dalam pantauan kemarin, wali kota juga mendapati masih ada pihak puskesmas yang memanfaatkan fasilitas ambulans Si Cepat. Menurutnya, hal tersebut bisa dilayani apabila mobil ambulans yang ada di puskesmas sedang terpakai dan pasien dalam kondisi gawat darurat.

”Tapi ini masih saja ditemui pihak puskesmas butuh ambulans Si Cepat karena ambulans mereka sedang keluar, tapi pasiennya sendiri tidak dalam kondisi gawat darurat,” katanya. ”Misalnya yang melahirkan normal, korban kecelakaan yang hanya lecet-lecet, jadi ini tidak bisa dilayani. Perlu disosialisasikan agar masyarakat tidak kecewa dengan program Ambulans Si Cepat ini,” tegasnya.

Hendi menargetkan ke depan setiap kecamatan memiliki minimal 2 ambulans Si Cepat. ”Satu kecamatan minimal ada 2, dipastikan ada 32 titik. Kalau tahun ini ada 5, kemudian tahun 2018, kita tambahi 10 unit, saya rasa di akhir periode kita sudah genap 32 ambulans minimal,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, menjelaskan lebih rinci kriteria apa saja yang bisa dilayani oleh Ambulans Si Cepat. Seperti tersedak yang sampai tidak bisa bernapas, jantung koroner yang sampai biru-biru bibirnya, kejadian kecelakaan yang mengancam nyawa serta kegawatdaruratan maternal seperti hamil dengan tekanan darah di atas 200, keracunan kehamilan, partus (harusnya sudah lahir tapi belum bisa lahir), kehamilan yang sudah keluar tetapi belum sempurna, dan juga pendarahan hebat.

”Intinya adalah penyakit yang sifatnya kegawatdaruratan, yang benar-benar membutuhkan pertolongan secepatnya. Bila tidak segera mendapatkan pertolongan, nyawa jadi taruhan,” ungkapnya.

Widoyono menambahkan, saat ini baru ada 5 dokter dalam pelayanan Ambulans Si Cepat. Jumlah tersebut jauh dari ideal. ”Kita butuh 25 dokter, sekarang baru ada 5, tapi setelah ini ada 8 dokter lagi, tapi masih proses,” katanya.

Dikatakan, pelayanan Ambulans Si Cepat dalam 24 jam. Dengan cukup menekan nomor 1500-132, akan langsung didatangi oleh ambulans untuk segera mendapatkan pertolongan tanpa biaya sepeser pun alias gratis.

Layanan Si Cepat yang dimiliki Pemerintah Kota Semarang tersebut terhubung langsung dengan sebuah sistem untuk dapat mengetahui lokasi penelepon secara akurat dan kondisi pertolongan yang sedang dilakukan. Dan untuk mendukung berjalannya sistem yang menjadi bagian dari Semarang Smart City tersebut, Pemerintah Kota Semarang secara khusus membangun ruang kontrol untuk menjalankan sistem ini.

Untuk saat ini ruang kontrol Si Cepat berpusat di DKK Kota Semarang. Ruang kontrol tersebut terhubung dengan tim medis yang bersiaga di 5 titik, yakni di Kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang sendiri, Puskesmas Halmahera, Puskesmas Srondol, Puskesmas Bangetayu, dan Puskesmas Karangmalang. (zal/aro/ce1)