BATANG-Kepolisian Resor (Polres) Batang berhasil membekuk tiga pelaku pengoplos gas. Tiga tersangka yang ditangkap polisi, adalah Komet Romadhon, 24, warga Kecamatan Tulis; Partono, 45, dan Teguh Prayitno, 34, keduanya warga Kecamatan Limpung.

Dari tangan pelaku turut diamankan barang bukti berupa 52 tabung elpiji berukuran 12 kg, 177 elpiji berukuran 3 kg, 10 selang regulator, 23 potongan bambu kecil, dan satu unit mobil pikap G 1743 ML untuk mengangkut hasil kejahatan ke konsumen.

Kapolres Batang, AKBP Juli Agung Pramono menjelaskan bahwa terungkapnya kasus itu berawal dari adanya informasi masyarakat yang mencurigai aktivitas tiga pelaku yang melakukan pemindahan elpiji ukuran 3 kilogram ke dalam elpiji ukuran 12 kilogram. Polisi yang menerima informasi tersebut, kemudian melakukan penyelidikan, dan memang mendapati tiga pelaku sedang mengoplos elpiji. “Kami menangkap pelaku sudah beberapa waktu kemarin. Namun untuk pengembangan, baru kami buka hari ini,” jelas Kapolres.

Dari hasil pengembangan kasus tersebut, didapat bahwa elpiji bersubsidi ukuran 3 kg, diperoleh dari Andi, warga Kabupaten Pemalang, seharga Rp 15.500 per tabung. Dari hasil mengumpulkan dari agen-agen kecil. Setalah membeli ratusan tabung, kemudian oleh pelaku dioplos ke dalam elpiji ukuran 12 kilogram dengan cara empat tabung kecil untuk satu tabung 12 kg. Kemudian tersangka menjual elpiji 12 kilogram kepada konsumen Rp 110 ribu per tabung.
“Tersangka mampu menjual elpiji oplosan itu sebanyak 80 tabung per minggu dengan keuntungan Rp 3.840.000,” katanya.

Akibat perbuatannya, tersangka akan dijerat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi dengan ancaman hukuman enam tahun penjara serta denda Rp 60 miliar dan UU nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 5 miliar.

Salah satu tersangka, Komet saat dikonfirmasi membenarkan modus kejahatan yang dilakukannya. Mereka mengambil tabung melon 3 kg di Pemalang. “Sebenarnya, kami hanya meneruskan usaha bos saya. Karena dipenjara atas kasus lain, kami yang mengerjakannya. Semua jaringan juga berasal dari dia termasuk pasokan dari Pemalang,” jelasnya panjang lebar.

Mereka bisa mengerti teknik mengoplos juga dari bosnya tersebut. Serta hasil dari oplosan selama ini, memang lebih banyak dipasarkan ke Kendal, dibanding Batang. Karena pasarnya sudah berjalan selama ini. Selama bekerja dari Agustus 2016 hingga awal tahun 2017, ketiga pelaku mendapat bayaran, bukan bagi hasil. Sehingga semua roda bisnis ada yang mengatur. “Saya menyesal pak kerja begini. Kami juga kapok, ke depan tidak mau mengulanginya lagi,” ucapnya sambil mencium tangan petugas setelah dimintai keterangan media. (han/ida)