SEMARANG – Semarang sebagai Kota Metropolis yang sibuk, tak melulu mengisahkan cerita kemacetan jalan. Sebab, kota ini memiliki kurang lebih 2.732 hektare lahan sawah. Tentu ini menjadi keunikan tersendiri. Bahkan, kini Pemkot Semarang sedang menggeber inovasi bidang pertanian. Lahan sawah seluas 1,5 hektare milik Kelompok Tani Loh Jinawi Dukuh Gilisari, Kecamatan Mijen, dijadikan percontohan penerapan teknologi pertanian. Mulai dari pembenahan tanah, pupuk, dan pengendalian hama. Salah satunya proyek eksperimen penanaman padi menggunakan teknologi Jajar Legowo (Jarwo). Sistem ini dipercaya mampu meningkatkan produktivitas hasil panen bagi petani dua kali lipat dibanding dengan penanaman konvensional.

Bila menggunakan cara konvensional, petani hanya bisa memanen padi 4-5 ton per hektare, tetapi menggunakan sistem Jarwo ini hasil panen mampu meningkat menjadi 8-10 ton per hektare. ”Panen membutuhkan waktu 4 bulan,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat meluncurkan program percontohan pertanian tanam padi di Gilisari, Mijen, Selasa (24/1).

Diharapkan, penerapan teknologi ini mampu meningkatkan hasil panen padi hingga 40-50 persen. ”Ini menjadi komitmen pemerintah untuk menyejahterakan petani,” katanya.

Saat ini, sedikitnya ada 2.732 hektare luas lahan baku sawah di Kota Semarang, telah tertanam menggunakan sistem Jarwo sebanyak 195 hektare atau 7,14 persen. Ditargetkan, 2017 ini dimulai dengan Gerakan Tanam Padi menggunakan sistem Jarwo di lahan total 368 hektare atau 13,47 persen. Sehingga diharapkan ada peningkatan tanam padi sawah sistem Jarwo seluas 173 hektare.

”Semarang sebagai Kota Metropolitan masih memiliki lahan persawahan yang cukup luas. Tentu ini menjadi keunikan tersendiri,” kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Dalam program ini, Pemkot Semarang menggandeng PT Petrokimia Gresik (PG) menjadi salah satu Corporate Social Responsibility (CSR). ”Sistem teknologi pangan ini berguna untuk mendukung ketahanan pangan di Kota Semarang,” ujarnya.

Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (PG) Nugroho Christijanto mengatakan, pihaknya dalam kerja sama ini berperan sebagai pihak yang menyediakan sarana produksi lengkap. Mulai dari pembenahan tanah, pupuk, dan pengendalian hama. ”Kerja sama ini bertujuan untuk mempertahankan dan mengoptimalkan lahan persawahan yang ada di Kota Semarang,” kata Nugroho.

Dijelaskannya, secara teknis, kegiatan tanam ini diawali dengan analisis tanah melalui fasilitas Mobil Uji Tanah milik PG. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah sehingga bisa diperoleh rekomendasi dosis pemupukan yang tepat.

”Saat ini, PG memiliki 4 unit Mobil Uji Tanah yang tersebar di Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, dan NTB,” kata pimpinan perusahaan anak usaha PT Pupuk Indonsia (Persero) ini.

Tahap selanjutnya, kata dia, dilakukan persemaian padi menggunakan benih unggul yang dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mijen, Semarang, dengan menambahkan produk hayati Potensida milik PT Petrosida Gresik, anak usaha PG. Tahap ini sebagai bentuk perlakuan benih  (seed treatment). ”Tujuan perlakuan  benih ini untuk meningkatkan ketahanan bibit dari serangan hama dan penyakit,” bebernya.

Sedangkan pemupukan dasar menggunakan Petroganik dan Petro-Cas. Petroganik merupakan pupuk organik yang berfungsi untuk meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan kualitas sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Sedangkan Petro-Cas bermanfaat sebagai sumber unsur dan penyeimbang PH tanah. ”Pengawalan lengkap ini telah diterapkan di berbagai daerah dan terbukti berhasil meningkatkan produktivitas padi,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana, mengatakan,
inovasi teknologi tanam Jajar Legowo. ’Legowo’ diambil dari bahasa Jawa berarti ’Lego’ atau luas. ’Dowo’ yang berarti panjang. ”Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan populasi tanaman  dengan cara mengatur jarak tanam dan  memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir,” jelasnya.

Sementara itu, menanggapi kenaikan harga cabai di pasaran, wali kota meminta warga untuk dapat memanfaatkan kesuburan lahan dengan menanam benih cabai. Selain itu, wali kota meminta untuk bijak dan seimbang dalam berbelanja. ”Belanja seperlunya dan sesuai dengan kebutuhan,” pesan wali kota. Usai melakukan penanaman padi dan cabai, wali kota juga menyempatkan diri meninjau Pasar Mijen untuk mengecek ketersediaan dan harga cabai di pasaran. (amu/aro/ce1)