SPBU Nonsubsidi Banyak Dilirik Pengusaha

630

SEMARANG – Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang khusus menyediakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai dilirik para pengusaha di Semarang. Hal tersebut dikatakan oleh Retail Manager Pertamina Marketing Operation Regional (MOR) IV Jawa Tengah-DIJ Umar Chotib di Semarang, Senin (23/1).

”Di Semarang saat ini sudah ada tiga SPBU nonsubsidi,” kata Umar saat peresmian SPBU 44.501.41 yang berlokasi di Jalan Pemuda, Semarang, yang khusus menyediakan BBM nonsubsidi alias bahan bakar khusus (BBK).

Dijelaskan Umar, selain SPBU di kawasan tengah kota itu, masih ada dua SPBU lagi di Semarang yang menerapkan langkah serupa, yakni yang berlokasi di kawasan Kaligarang dan Patemon. ”Kalau di Jateng, sudah ada tujuh SPBU yang khusus menyediakan BBK,” katanya.

Jenis BBK yang dimaksud, yakni Pertalite, Pertamax Series, dan Dex Series. Sebab spesifikasi sepeda motor dan mobil sekarang ini menggunakan oktan yang cukup tinggi. ”Rekomendasinya mesin-mesin mobil sekarang menggunakan bahan bakar beroktan di atas 90, ya, itu setidaknya Pertalite. Namun, kebanyakan asal ngisi saja. Tidak teliti,” katanya.

Sementara itu, Direktur Operasional SPBU 44.501.41 Jalan Pemuda, Semarang, Randy Manggala mengakui memang berkomitmen tidak menyediakan bahan bakar jenis Premium dan Solar. ”Kebutuhan BBM nonsubsidi saya yakin semakin lama akan semakin tinggi. Makanya, kami fokus memfasilitasi secara maksimal masyarakat yang memang membutuhkan BBK,” katanya.

Bahkan, di SPBU-nya yang lain, yakni SPBU 44.501.40 di Jalan Jenderal Sudirman Semarang, ia tengah menyiapkan peralihan dari masih menyedikan BBM nonsubsidi ke BBK. ”Mulai Februari 2017, SPBU 44.501.40 juga menyusul khusus menyediakan BBK. Di Semarang belum terlalu banyak. Ya, sekaligus membantu pemerintah meringankan beban subsidi BBM,” katanya.

Mengenai pengaruhnya dengan omzet, Randy mengaku justru lebih menguntungkan karena selama ini konsumen yang menggunakan BBK semakin banyak dan diprediksi akan meningkat. ”Harga BBK memang lebih fluktuatif, tetapi pengaruhnya tidak signifikan karena perubahan tidak lebih dari Rp 500/liter. Kalaupun ada penurunan, tidak sampai lima persen,” katanya. (ewb/adv/ida/ce1)