SEMARANG – Penghapusan mata pelajaran (mapel) Bahasa Jawa dari ujian sekolah (US) kelas XII, membuat kalangan dewan resah. Pasalnya, Bahasa Jawa justru dianggap penting agar generasi muda lebih mudah mengenal identitas mereka sebagai orang Jawa.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Sri Marnyuni menilai, Bahasa Jawa menyimpan filosofi sikap menghormati orang yang lebih tua. Termasuk guru. Praktis, jika dihilangkan dari US, siswa tidak akan serius belajar Bahasa Jawa.  Dia mendesak pemprov mempertahankan Bahasa Jawa agar tetap diujikan dalam setiap evaluasi pendidikan, baik ujian harian, semester, akhir tahun ajaran hingga kelulusan. ”Bahasa Jawa sangat penting untuk dilestarikan di Jateng, karena sebagai bahasa ibu, dan merupakan identitas masyarakat Jawa,” tegasnya.

Menurutnya, jika pemangku kepentingan saja tidak mau melestarikan, bukan tidak mungkin Bahasa Jawa akan punah. Politikus PAN ini menegaskan, di Jawa Tengah sudah ada perlindungan Bahasa Jawa melalui Perda Provinsi Jateng nomor 9 tahun 2012 dan Pergub nomor 19 tahun 2014. Aturan ini harus ditegakkan meski Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak mewajibkannya.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Yudi Indras Wiendarto menegaskan kebijakan Kemendikbud yang tidak mewajibkan Bahasa Jawa masuk dalam US. Justru mengancam kelestarian budaya daerah. Bukan tidak mungkin jam pelajaran Bahasa Jawa akan dihapus, digantikan mapel yang masuk di US. ”Lama-lama malah nggak diajarkan, dan bahasa itu hilang, dan kita kehilangan jatidiri kita. Padahal bahasa daerah kan fondasi dari budaya,” ungkapnya.

Ketua II MGMP Bahasa Jawa SMA Jateng, Sri Paminto mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa Bahasa Jawa harus  tetap dimasukkan dalam US. Sebab, mapel ini tergolong istimewa di Jateng karena keberadaannya dilindungi oleh Perda dan Pergub.

”Persoalan lain, belum semua satuan pendidikan (SMA/SMK/MA) di Jateng patuh mengajarkan Bahasa Jawa dua jam per minggu seperti ketentuan dalam Pergub,” ucapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menjelaskan, tidak dimasukkannya Bahasa Jawa di US, bukan berarti menomorduakannya. Sebab, mapel ini wajib diajarkan di seluruh sekolah, lewat muatan lokal. ”Kan sudah ada muatan lokal. Tidak usah diujikan nggak apa-apa. Yang penting tidak dihilangkan,” ucapnya. (amh/ric/ce1)