Ikuti Tren Fashion, Promosi Gunakan Instagram

Toko Kain Jangkrik, Sudah 70 Tahun, Kini Dikelola Generasi Ketiga

1387
Bagian depan Toko Jangkrik di Kranggan, Semarang. (Nurchamim@radarsemarang.com)
Bagian depan Toko Jangkrik di Kranggan, Semarang. (Nurchamim@radarsemarang.com)

Siapa yang tidak kenal Toko Jangkrik? Nama toko yang menjual kain atau tesktil ini cukup legendaris di Semarang. Kini, toko yang terletak di kawasan Kranggan Semarang ini dikelola oleh generasi ketiga. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

PRODUK fashion selalu berkembang dinamis. Setiap waktu selalu berubah style mengikuti perkembangan zaman. Termasuk produk kain untuk bahan membuat busana juga selalu berubah.

Di Kota Semarang, untuk belanja kain, siapa yang tak kenal dengan toko kain Jangkrik. Nama toko ini cukup beken. Meski di kawasan Kranggan banyak berdiri toko kain, namun Toko Jangkrik tidak pernah sepi pengunjung.

Toko kain yang berada di bilangan Jalan KH Wahid Hasyim No 104 ini telah berdiri sejak 70 tahun lalu. Toko tersebut dirintis oleh pasangan Oei Hien Djie dan Soh Liang Nio. Sekarang, pengelolaan toko diteruskan oleh generasi ketiga, yakni pasangan Nani Yuliana dan Rudy Setiawan Wibowo.

Meski sudah beralih generasi, Toko Jangkrik tetap diminati masyarakat. Mereka yang membutuhkan kain dan produk tekstil lainnya, yang dituju kali pertama pasti Toko Jangkrik. Tak sedikit pelanggannya, juga sudah beralih ke anak cucu.

Ditemui di tokonya, Nani mengatakan, kunci kesuksesannya tidak lain berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa dan kerja keras. Selain itu, keluarganya konsistensi menjual kain dengan kualitas dan mutu yang terjamin.

”Kami berusaha untuk selalu berinovasi dari bahan-bahan fashion, ngikutin tren yang ada. Tapi, ya tidak terlepas dari berkah Tuhan, dan kita juga selalu mencari kekurangan dari toko kita apa untuk diperbaiki lagi,” ungkap Nani ramah.

Untuk stok kain, ia mengatakan tokonya mengandalkan kain-kain lokal seperti dari Bandung, Jepara, dan Surabaya. Tokonya sendiri seringkali menjadi langganan bahan kain seragam dari kantor-kantor atau instansi pemerintah, rumah sakit, dan lainnya.

Ia menceritakan, bisnis kain saat ini dan masa dulu sangat berbeda. Selain persaingan antartoko kain semakin ketat, masyarakat juga dimanjakan dengan produk pakaian jadi dengan ukuran bervariasi dan harga terjangkau.  Sehingga tak perlu repot harus menjahitkan ke tukang jahit.

Ya, otomatis kain sekarang bersaing dengan produk pakaian jadi, pasti kita mengalami penurunan. Karena produk pakaian jadi, bisa lebih cepet dan bisa ngepas sendiri,” kata Nani yang memiliki suara lembut.

Menurutnya, kendala dalam berbisnis kain dan mempertahankan Toko Jangkrik tetap eksis adalah harus selalu mengikuti tren, serta selalu update perkembangan fashion. Pemilihan warna kain juga penting, karena ia harus tahu selera pelanggannya.

”Jadi, kita harus cepet-cepet melakukan perubahan dan inovasi. Lagi musim apa sekarang? Jadi kita nggak sampai ketinggalan. Karena orang sekarang kan fashion banget ya. Misalnya, perubahan tren pakaian dari warna pastel ke warna jreng,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Toko Kain Jangkrik menempati bangunan tiga lantai yang cukup besar. Toko yang pernah ludes terbakar ini setiap hari selalu ramai pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa Toko Kain Jangkrik telah memiliki ruang khusus di hati pelanggannya. Jenis kain yang tersedia di toko ini, antara lain chiffon kembang, bahan gamis, serta jaguar untuk bahan gaun pesta.

Kalo di sini yang paling banyak dicari ya kain batik dan seragam, karena kantor-kantor kan setiap hari apa itu harus pakai batik,” ujarnya.

Nani mengungkapkan, tokonya paling ramai pengunjung ketika menjelang Lebaran. Saat itu, banyak warga belanja kain untuk dibuat baju Lebaran. Ke depan, Nani  berharap Toko Jangkrik yang dikelolanya terus eksis, hingga generasi berikutnya.

”Kami punya akun Instagram yang memajang foto-foto model dan motif kain yang kami jual. Ya, ini untuk mengikuti perkembangan zaman. Namun namanya pelanggan tetap lebih puas kalau datang langsung ke tokonya. Kami sendiri lebih suka bertatap muka langsung dengan pelanggan, bisa ngobrol dan kenalan, sekaligus tukar pikiran,” katanya

Ia juga bercerita, keunikan tokonya adalah pegawainya yang berjumlah 28 orang selalu menggunakan bahasa Jawa saat melayani pelanggan. Tujuannya untuk tetap melestarikan budaya sendiri. Sekaligus agar dirinya lebih memahami bahasa Jawa, karena ia lahir di Papua dan besar di Makassar.

”Kami berharap, Toko Jangkrik bisa ada di mana-mana dan bisa memenuhi kebutuhan sandang warga Jawa Tengah. Selain itu, kami berharap anak-anak saya kelak bisa meneruskan. Saat ini, sebagai orang tua saya berharap demikian, tapi kan anak belum tentu mau,” tandasnya. (*/aro/ce1)