PEKALONGAN-Tak hanya kenyamanan tempat tinggal yang terusik akibat banjir rob di wilayah Kota Pekalongan, namun pergerakan perekonomian juga nyaris mati. Saat tak ada hujan, kondisinya selalu tergenang air rob setinggi 20-30 sentimeter. Apalagi jika hujan datang, ketinggian air rob mencapai hampir 1 meter. Kondisi tersebut membuat warga repot dan sulit beraktivitas.

Seorang warga Pasir Kraton Kramat, Diah Utami, mengeluh tidak bisa berjualan lagi selama hampir satu tahun ini, lantaran air rob merangsek masuk ke dalam rumahnya. “Saya dulunya jualan pecel, kolak pisang, gorengan dan jajanan ringan, di depan rumah. Tapi karena air masuk rumah, jadi susah mau jualan. Apalagi juga mau masak, sangat repot banget. Lebih-lebih kalau hendak belanja, juga susah,” katanya.

Kalau toko-toko klontong, dinilainya, masih mending. Karena hanya menunggu pembeli datang dan barangnya instan. “Sedangkan kalau kaya saya, harus dimasak, digoreng dulu, jadi kalau basah kaya gini bergeraknya nggak lelusa,” imbuhnya.

Selain dirinya, beberapa toko milik warga lain juga terpaksa tutup karena rob. Lantaran warung mereka juga sepi pembeli lantaran terkendala rob. “Jualannya jadi sepi, makanya memilih tutup. Bisa dikatakan perekonomian di sini mati,” ungkapnya.

Keluhan lain juga dirasakan Wartuti, warga Pasir Kraton Kramat. Menurutnya, jalan yang tergenang rob kerap menelan korban celaka, misal terpeleset. Hal ini karena tekstur jalan menjadi licin dan berlumut. “Kemarin saja kaki saya luka, kepleset di rumah. Soalnya rumah banyak airnya, jadi licin,” katanya sambil memperlihatkan lukanya.

Pada kesempatan pemberian bantuan sosial dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Senin (23/1) kemarin, Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Djunaid, memastikan penanganan rob akan dilaksanakan tahun 2017 ini. Maksimal Maret sudah ada yang menang lelang, sehingga bisa segera dikerjakan. Tahap pertama, akan dilakukan pengurugan dan peninggian sejumlah jalan.

Ia menyebutkan bahwa dalam penanganan rob tahun ini akan menggunakan dana sebesar Rp 20 miliar dari APBD Kota Pekalongan dan Rp 10 miliar dari APBD Provinsi Jateng. Sementara itu, dari pemerintah pusat, ia sudah menyampaikan kepada presiden saat berkunjung ke Kota Pekalongan beberapa pekan lalu dan sudah menulis surat kepada Menteri PU.

“Dana sudah ada, tinggal dilaksanakan. Jadi kami butuh masukan dari warga agar bisa tepat sasaran dalam menanggulanginya. Peran lurah dan camat sangat penting, pokoknya harus lebih banyak di lapangan daripada di kantor,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, ada 9 kelurahan yakni 2 dari Kecamatan Pekalongan Barat dan 7 dari Kecamatan Pekalongan Utara mendapatkan bantuan sosial. Bantuan tersebut berupa keperluan pangan, sandang dan peralatan rumah tangga, yakni 100 tenda gulung, 6000 makanan kaleng, 700 selimut, 3000 matras, 30 set peralatan dapur, 800 seragam sekolah baik untuk SMP dan SMA, 100 daster, 300 kaos, 100 baju anak, 100 celana, dan 3000 kg beras. (tin/ida)