Respons Cepat dengan Aplikasi Panic Button

532

SEMARANG – Komplotan perampok bersenjata api beraksi di Jalan Pandanaran, Semarang. Dalam aksi kejahatan di siang bolong ini, para pelaku berhasil membawa kabur uang ratusan juta rupiah milik nasabah Bank BRI.

Peristiwa perampokan itu terjadi Senin (23/1) sekitar pukul 12.30. Lokasi kejadian di depan Bank BRI Kantor Cabang Jalan Pandanaran. Korban diketahui bernama Diah Widiastuti dan Helena Lince, warga Barusari Semarang Selatan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, kejadian itu bermula ketika ibu dan anak ini baru keluar dari Bank BRI Jalan Pandanaran usai mengambil uang tunai. Tanpa curiga, keduanya menuju lokasi parkiran Bank BRI lalu mengendarai sepeda motor Honda Revo warna merah. Namun baru berjalan sekitar 15 meter mendekati traffic light Eka Karya, tiba-tiba datang empat orang mengendarai dua sepeda motor memepet dan menendang motor korban dari samping kanan.

Akibatnya, kedua korban jatuh tersungkur di aspal bersama motornya. Melihat dua korban jatuh, salah satu pelaku langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkan ke arah Helena yang dibonceng putrinya sambil membawa tas berisi uang.

”Pas jatuh itu, satu orang (pelaku) membawa pistol dan menembakkan ke atas. Mungkin untuk menakuti korbannya. Ada dua kali suara tembakan,” ungkap Jono, saksi di lokasi kejadian kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang bekerja sebagai juru parkir itu menjelaskan, aksi tarik-menarik sempat terjadi antara korban dengan pelaku lantaran korban berusaha mempertahankan tasnya. Namun suara pistol yang ditembakkan ke atas membuat korban ketakutan hingga akhirnya pasrah tas berisi uang miliknya dibawa kabur pelaku.

”Ada empat orang berboncengan dua motor. Satu boncengan Suzuki Satria dan satunya boncengan Yamaha Vixion. Semuanya lari ke arah barat (Tugu Muda),” jelasnya.

Korban tak menyangka jika aktivitasnya sudah diintai para pelaku. Saat peristiwa itu, Diah mengaku kaget lantaran secara tiba-tiba motornya ditendang dari samping oleh salah satu pelaku.

”Sempat kaget, tahu-tahu ditendang dari samping oleh penjahat tadi dan langsung jatuh. Mereka ada yang membawa pistol dan meminta paksa tas yang dibawa ibu saya,” ungkap Diah Widiastuti.

Melihat peristiwa tersebut, Diah awalnya panik dan sempat berteriak minta tolong. Selain itu ia juga langsung mengambil handphone di saku celananya untuk minta pertolongan sama polisi.

”Saya pakai aplikasi Panic Button Polda Jateng. Tinggal pencet tiga kali. Secara otomatis langsung terkoneksi dengan comment center kepolisian. Di situ ada Global Positioning Sistem (GPS)-nya, mendeteksi lokasi kejadian,” jelasnya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji menjelaskan, peristiwa tersebut merupakan bagian dari kegiatan simulasi dalam rangka sosialisasi aplikasi Panic Button Polda Jateng.

”Simulasi comment center ini di dalamnya ada Smille Police, kepanjangan dari sistem manajemen pelayanan elektronik. Ini merupakan terobosan dari Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono,” jelasnya.

Aplikasi ini bertujuan untuk memberikan pelayanan cepat kepada masyarakat ketika mengalami gangguan dari tindak kejahatan di lapangan. Sehingga masyarakat yang menggunakan aplikasi ini langsung mendapat respons oleh petugas kepolisian di lokasi terdekat.
”Tinggal memencet tombol tiga kali, terus terkoneksi dengan comment center, diteruskan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang. Nanti polisi terdekat yang bertanggung jawab turun ke lokasi,” bebernya.

Abiyoso menambahkan, aplikasi ini bisa dipakai oleh semua lapisan masyarakat. Namun demikian, pihaknya mengimbau agar aplikasi ini tidak disalahgunakan. Sebab, apabila disalahgunakan akan dilakukan pemblokiran oleh operator comment center.

”Kita register dulu, mendaftarkan nomor HP kita dan alamat email. Kalau disalahgunakan akan diblokir. Ya memang belum ada sanksinya,” katanya.

Dalam simulasi kemarin, kedua korban diperankan oleh anggota Polwan Polrestabes Semarang Ipda Helena Lince dan Bripda Diah Widiastuti. Sedangkan para pelaku kejahatan dimainkan anggota Satreskrim Polrestabes Semarang. (mha/aro/ce1)