Sudah sepuluh tahun Siti Arena Sri Wijaya bergelut di dunia kerajinan tangan. Sudah ribuan tas, dompet, taplak dan cindera mata ia buat. Produk yang paling unggul dari sekian banyak karyanya adalah dompet zipper.

 PUPUT PUSPITASARI, Magelang

 USIA Siti memang tak lagi muda. Hampir kepala enam. Namun semangatnya luar biasa. Ia masih telaten menjahit dompet zipper menggunakan mesin dengan bantuan kacamata. Mengapa ia masih sibuk mengurus usahanya? Siti menjawab karena di situlah hobinya.

“Pertama buat untuk diri sendiri, terus ibu-ibu pengajian kepingin. Mereka pesan untuk tempat Alquran dan mukena, ini awal saya merintis usaha,” katanya.

Ia mengenang, dompet zipper pertama kali dipasarkan di Magelang. Masih di kalangan tetangga, dan teman-temannya. Tak berselang lama, bermunculan produk yang serupa. “Memang pesanan menjadi berkurang, tapi tidak banyak. Karena orang saya punya pasar sendiri, mereka juga punya pasar sendiri, jadi nggak masalah,” tutur warga Villa Gading Mas blok 5/B7, Jalan Sunan Giri TW 6 Jurangombo Selatan itu.

Siti tetap optimistis, kualitas produknya bisa diadu. produk berlabel Sekar Collection mengundang komentar dari pembeli yang mengaku puas. Kini, produknya sudah meluas pemasaran seluruh Jawa. “Sekarang banyak pesanan untuk suvenir nikahan. Ada yang pesan 200-700 dompet,” akunya.

Sehari, ia bisa mengerjakan 10-20 dompet. Tergantung tingkat kerumitan dan ukuran. Semua dikerjakan sendiri. Ia mengaku lebih puas dengan hasil karyanya. Agar tak monoton, ia berkreasi mengaplikasikan payet. Sementara produk lain, lebih senang bermain dengan kancing baju.

“Jadi sesuai harapan, tapi kalau pengemasan kadang minta bantuan orang untuk membantu saya,” ujar perempuan kelahiran 21 Januari 1950 itu.

Dia juga senang berburu bahan di Jogjakarta. Ia berharap, di Magelang juga ada tempat belanja yang murah dan lengkap. Imbasnya, dapat menekan ongkos produksi. “Jadi bisa dijual dengan harga yang lebih murah.”

Upaya yang dilakukan agar usahanya tetap berjalan, ia kerap ikut pameran di berbagai daerah. Selain itu rajin mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pemkot Magelang sebagai langkah pembinaan bagi usaha rumahan melalui dinas terkait. Tujuannya, agar memiliki inovasi dalam mengelola bisnis.

Ia mengembangkan bisnisnya dengan membuat tas decoupage, bros rajut, bros kain perca, telapak meja, sarung bantal, dan aneka kerajinan tangan lainnya.

“Produk saya ini saya pasarkan secara online juga,” ujar perempuan yang pandai bermain gawai ini.

Nenek dengan delapan cucu ini mempunyai prinsip bahwa meski jadi istri pensiunan Pertamina, namun harus tetap mempunyai kegiatan di rumah yang menghasilkan. Bahkan keuntungannya bisa sampai 30 persen. (*/lis)