Pedagang lunpia kali pertama, pasangan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi, memang sudah beranak pinak. Keturunannya banyak yang berbisnis lunpia dengan label beda. Salah satunya Lunpia Gang Lombok.

HARIYANTO

LUNPIA Gang Lombok terletak di kawasan Pecinan, Semarang Tengah. Tepatnya di samping Kali Semarang tak jauh dari Kelenteng Tay Kak Sie. Toko sekaligus warung lunpia itu tak terlalu luas. Ukurannya hanya  sekitar 5 meter x 2,5 meter persegi. Meski begitu, Lunpia Gang Lombok tak pernah sepi pengunjung.

Kini, Lunpia Gang Lombok dikelola oleh generasi kelima dari pasangan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi, yakni Vincent Setiawan Usodo. Dia meneruskan bisnis orang tuanya, Utomo Usodo.

”Kalau berdirinya sejak kapan, saya tidak tahu pasti. Cuma menurut cerita nenek moyang saya, toko ini yang mendirikan pasangan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi. Tjoa Thay Joe adalah warga keturunan Tionghoa, kalau Mbok Wasi orang Jawa asli,” ungkap Vincent Setiawan Usodo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (22/1).

Vincent mengaku, mengelola toko lunpia itu baru pada 2016 lalu. Sebelumnya, toko lunpia Gang Lombok dikelola oleh orang tuanya, Utomo Usodo, yang juga keturunan pasangan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi.

”Kalau generasi kedua namanya Siem Huan Sing. Terus generasi ketiga sudah 50 tahun, Siem Swie Kiem atau Purnomo Usodo. Generasi keempatnya Untung Usodo dan kelima saya,” bebernya.

Dijelaskan, nama lunpia berasal dari kata ”Lun” yang artinya lunak, dan ”Pia” artinya kue. Isi lunpia berbahan dasar rebung, udang dan telur. Lunpia Gang Lombok menyajikan dalam bentuk basah dan goreng. ”Kita lebih condong ke rasa gurih,” ujarnya.

Ia membuat lunpia bersama enam orang, termasuk kerabatnya. Tidak sulit mendapatkan bahan lunpia. Ia sudah memiliki pelanggan yang menyuplai bahan-bahan dasar tersebut.

”Untuk rebungnya kita cuci di rumah sampai bersih supaya tidak bau lalu dirajang (dipotong) kecil-kecil. Setelah itu, direbus setengah matang. Baru dibawa ke sini (toko),” terangnya.

Potongan rebung setengah matang itu lantas diracik bersama bahan lain. Selanjutnya, bahan dasar itu dicampur jadi satu yang dibalut gulungan dari gandum dengan ukuran 10 sampai 15 sentimeter. Setelah itu, dilanjutkan proses penggorengan. ”Saya yang nggulung, yang masak sudah ada sendiri. Namanya Pak Man. Kalau menggoreng tidak sampai 15 menit,” ujarnya.

Toko Lunpia Gang Lombok buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Setidaknya ribuan potong berhasil dijual setiap hari. Untuk membuatnya dibutuhkan bahan dasar rebung seberat 2 kuintal, telur 80 kg, dan udang hingga 25 kg. Lunpia yang sudah matang dikemas dalam besek atau anyaman bambu. ”Supaya lunpia tetap segar, dan tidak pengap lantaran ada ventilasi udara,” jelasnya.

Saat musim liburan, ia bisa membuat hingga 1.000 potong lunpia per hari. Sedangkan pada hari biasa sekitar 500 potong. Cita rasa kuliner Lunpia Gang Lombok ini tidak hanya disukai wisatawan lokal. Tapi, juga wisatawan mancanegara. Tak jarang turis asing singgah dan makan lunpia di tempat ini.

”Pelanggan sudah banyak. Sampai ada orang dari negara Belanda, Jepang, Hongkong yang datang untuk membeli lunpia. Kalau dari dalam negeri, ada wisatawan dari Papua, Jakarta, dan Surabaya,” katanya.

Banyak juga yang membeli secara delivery order lewat jasa Go-Jek. Tak heran, setiap hari banyak driver Go-Jek yang mangkal di Toko Lunpia Gang Lombok. ”Lunpia Gang Lombok ini nomor satu jumlah ordernya lewat Go-Jek. Lunpia yang lain kalah,” ucap seorang driver Go-Jek.

Meski ramai pembeli, sampai saat ini Lunpia Gang Lombok tidak membuka cabang. ”Kita sebenarnya pengin membuka cabang di dekat pusat Kota Semarang, tapi belum bisa terealisasi,” ujar Vincent. (*/aro/ce1)