Prostitusi Liar Rusak Citra Kopeng

2030

UNGARAN – Praktik prostitusi terselubung membuat citra buruk Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Hal itu menjadikan wilayah tersebut sulit berkembang sebagai desa wisata.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kabupaten Semarang, Yosep Bambang Trihardjono, citra buruk tersebut harus dihapus. Stigma buruk yang selama ini terbayang di benak para wisatawan, yakni maraknya prostitusi ilegal yang berlindung di hotel atau penginapan kelas melati yang tersebar di wilayah Kopeng harus dibersihkan.

“Setiap ada wisatawan yang masuk ke Kopeng selalu ditawari untuk ngamar. Seolah tidak ada tujuan lain selain untuk itu. Padahal banyak sekali potensi alam Kopeng yang bisa dikembangkan untuk menarik minat wisatawan untuk datang,” kata Yosep kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (22/1).

Dikatakan Yosep, ketika dirinya bertugas sebagai Camat Getasan pada 2001, pariwisata Desa Kopeng telah tercoreng praktik haram itu. Sampai saat ini pun citra buruk itu masih melekat.

“Generasi muda Desa Kopeng harus mau dan mampu merubah stigma buruk itu. Masih banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk dinikmati wisatawan yang datang ke sini,” katanya.

Yosep mengatakan, dana desa senilai kurang lebih Rp 1,2 miliar yang diterima Desa Kopeng dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur maupun kegiatan ekonomi produktif guna meningkatkan kesejahteraan warga.

Ia menegaskan, agar kepala desa dan perangkat desa jeli dan kreatif melihat potensi alam maupun pertanian yang cocok untuk dikembangkan di Kopeng. Dicontohkan kegagalan dua kasus pengembangan usaha ekonomi warga Kopeng. Yakni, budidaya ulat sutra pada 2001 dan pengembangan demplot buah strawberry di Dusun Cuntel pada 2002 agar tidak terulang lagi. “Pilih dan pilah kegiatan ekonomi produktif warga yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosiokultural setempat agar dapat berhasil,” pesannya.

Kades Kopeng, Rebo Sarwoto, mengakui masih banyak warganya yang belum memiliki jiwa dan semangat wirausaha. Karenanya, Pemdes Kopeng terus berupaya termasuk menggandeng konsultan pengembangan SDM untuk menumbuhkan semangat dan motivasi warga agar mau berwirausaha.

“Kita berharap citra buruk Kopeng itu hilang, dan generasi muda mempunyai kecakapan atau softskill yang memadai agar mampu menumbuhkan usaha ekonomi produktif,” harapnya.

Rebo juga berencana membuat usulan perubahan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) Desa Kopeng guna menunjang pengembangan potensi pariwisatanya. Sebab menurutnya, desain RTRW saat ini belum memberikan ruang yang leluasa bagi Pemdes Kopeng untuk mengembangkan potensi pariwisata alam.

Sekretaris Kecamatan Getasan, Suyana, mengingatkan Pemdes Kopeng untuk mengaktifkan website atau laman Desa Kopeng yang diunggah di internet. “Harus dibuat dan disiapkan operatornya agar mampu menampilkan potensi Desa Kopeng ke seluruh dunia,” katanya. (ewb/aro)