Pilih Daging Segar dan Dimasak Lebih Lama

437
TENANG: Kabar penyakit antraks pada sapi belum berdampak pada jumlah penjualan daging sapi di Pasar Rejowinangun, Magelang. (Hanif.adi.Prasetyo@radarkedu.com)
TENANG: Kabar penyakit antraks pada sapi belum berdampak pada jumlah penjualan daging sapi di Pasar Rejowinangun, Magelang. (Hanif.adi.Prasetyo@radarkedu.com)

MAGELANG – Santernya kabar penyakit antraks yang tengah terjadi di Jogjakarta sepekan belakangan mulai dikhawatirkan sebagian masyarakat Kota Magelang. Kendati begitu, penyakit menular pada hewan ternak ini tampaknya belum mempengaruhi transaksi penjualan daging sapi di pasar tradisional.

Kekhawatiran tersebut dirasakan Ema Widiastuti, warga Magelang Selatan yang mengaku kini lebih selektif dalam membeli daging sapi. Sebab, sepekan terakhir berhembus kabar soal penyakit antraks yang ditularkan melalui hewan ternak sapi. Bahkan, diduga ada warga Jogjakarta meninggal akibat terserang penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus Anthracis itu.

”Sebenarnya tidak begitu paham kondisi daging terinfeksi antraks. Hanya saya memilih daging yang warnanya masih merah segar dan kekenyalannya wajar. Setelah itu waktu memasak olahan daging lebih lama dari biasanya,” jelasnya.

Sambung Ema, pemerintah setempat semestinya memberikan pemahaman cara memilih daging yang baik, layak konsumsi, utamanya ditengah kabar penyakit antraks.

Berbeda dengan Ema, pedagang daging sapi di Pasar Rejowinangun, Nur Rosidah, 46, menanggapi santai kabar penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia tersebut. Bahkan, Rosidah mengaku transaksi penjualan daging setiap harinya dirasakan masih stabil. ”Omzet tidak ada penurunan. Malah meningkat karena banyak untuk keperluan hajatan (pernikahan),” ujarnya.

Meski begitu, ia tidak menampik bila ada beberapa pembeli yang menyinggung penyakit aktraks. Bahkan, ada juga konsumen yang mempertanyakan asal muasal sapi hingga lokasi penyembelihan. Ia mengaku, sapi tersebut didatangkan dari kawasan Kopeng Salatiga dan sudah mengantongi surat keterangan sehat hewan yang dikeluarkan dokter hewan terkait. Pemotongannya pun dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) bersertifikat.

”Akhir-akhir ini memang harus sabar melayani dan meyakinkan konsumen,” ucap dia.

Hal senada diutarakan Karimah, 40. Isu penyakit antraks itu belum berpengaruh terhadap penjualannya. Menurutnya, saat ini jumlah harga dan pembeli masih stabil di harga Rp 110 ribu per kilogram untuk kualitas super. ”Masih tenang karena di Magelang belum pernah mencuat isu sapi antraks. Mudah-mudahan jangan sampai menular ke sini,” tuturnya.

Meski mengaku tenang, namun ada sedikit keresahan dalam dirinya. Karimah berharap pemerintah setempat segera melakukan tindakan pencegahan. Melalui upaya tersebut, pemerintah diharapkan mampu meyakinkan pembeli untuk tidak takut membeli dan mengonsumsi daging sapi. (cr1/ton)