UNGARAN – Objek wisata alam Curug Semirang di wilayah Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, ditutup selama seminggu. Hal tersebut dilakukan setelah jalur menuju lokasi air terjun tertutup material tanah longsor.

“Kami tutup sementara selama seminggu sembari melihat kondisi cuaca,” beber Kepala Desa Gogik Miyanto, Minggu (22/1).

Dikatakan Miyanto, longsor di jalur menuju Semirang terjadi pada Jumat (20/1) sore setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Titik longsor berada di tengah antara pintu masuk dan lokasi air terjun, masuk wilayah administrasi Perhutani. “Meski masuk wilayah Perhutani, kami tetap punya tanggungjawab ikut memantau kondisi dan memelihara kawasan hutan,” katanya.

Karena itu, begitu ada kabar kejadian longsor, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gogik, warga desa dan petugas Perhutani bergotong royong membersihkan material longsor.

“Hari ini (kemarin) diadakan kerja bakti bersama oleh warga dan sudah bisa dilalui. Namun untuk berjaga-jaga, sementara waktu tidak dilintasi dulu oleh wisatawan,” katanya.

Jalan menuju lokasi air terjun Semirang memang dikenal sebagai jalur wisata alam. Lokasi air terjun berada di lereng utara Gunung Ungaran, di tengah kawasan hutan tropis.

Tidak heran jalur yang ada masih alami, berupa jalan setapak dari batu dan tanah, naik turun khas jalur pendakian sebuah gunung. Di beberapa titik, jalur menuju air terjun setinggi 45 meter ini berada di bawah tebing tinggi.

Sehingga potensi terjadi longsor cukup tinggi, seiring tingginya intensitas hujan yang mengguyur. “Penutupan sementara ini juga karena air sungai di bawah, dekat loket masuk, sering meluap jika hujan deras. Kalau sudah meluap tidak bisa dilalui,” katanya.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto, meminta kades dan perangkatnya meningkatkan kewaspadaan seiring masa puncak hujan saat ini. Desa yang memiliki wisata alam maupun kondisi geografis rentan bencana diharapkan untuk lebih memperhatikan perubahan gejala alam, khususnya longsor dan banjir.

“Jika cuacanya memang tidak memungkinkan, desa pengelola wisata alam jangan paksa diri untuk buka, jangan dilalui wisatawan dulu. Karena memang keamanan wisata alam sangat dipengaruhi oleh kondisi alam,” ujarnya. (ewb/aro)