HURUF RAKSASA : Sejumlah pengunjung berada di sekitar huruf raksasa di Pantai Alam Indah (PAI) Tegal, Minggu (22/1). (Anam.syahmadani@radartegal)
HURUF RAKSASA : Sejumlah pengunjung berada di sekitar huruf raksasa di Pantai Alam Indah (PAI) Tegal, Minggu (22/1). (Anam.syahmadani@radartegal)

TEGAL – Harga tiket masuk Objek Wisata Pantai Alam Indah (PAI) mengalami kenaikan hingga 100 persen. Meski demikian, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menyatakan, hal itu tidak mengurangi tingkat kunjungan masyarakat. Sebab, kenaikan harga tiket masuk diimbangi dengan sejumlah pembangunan yang dilakukan untuk mempercantik PAI.

Misalnya, jogging track dan pemasangan huruf raksasa yang membentuk tulisan “Pantai Alam Indah”. Huruf raksasa tersebut, lokasinya di dekat revertment atau sabuk pantai yang membujur dari timur ke barat. Tepatnya, di sisi sebelah timur anjungan. Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Abdan Harimurti mengatakan, kenaikan harga tiket PAI diberlakukan sejak Oktober.

Kenaikan tersebut setelah selama tujuh tahun menggunakan harga tiket masuk tarif lama. Setelah kenaikan, harga tiket masuk untuk pengunjung anak-anak dari Rp500 menjadi Rp1.000 di hari biasa, dan dari Rp1.000 menjadi Rp2.000 di hari libur. Sedang untuk dewasa, Rp1.000 menjadi Rp2.000 di hari biasa, dan Rp1.500 menjadi Rp3.000 di hari libur.

“Kenaikan ini antara lain karena beban operasional, inflasi, dan penyesuaian harga tiket masuk dengan objek wisata sekitar. Meski sudah naik, harga tiket masuk PAI masih yang terendah di antara objek wisata seperti yang di Brebes maupun Pemalang,” kata Abdan, Minggu (22/1). Dia mengemukakan, Disporapar bertugas untuk mengelola dan melakukan perawatan di PAI.

Ke depan, akan kembali dilakukan sejumlah pembangunan. Yakni, melanjutkan jogging track ke arah timur. Berdasarkan wawancara di lokasi, pengunjung rata-rata tidak mempersoalkan kenaikan harga tiket masuk PAI. Mereka lebih menyoroti persoalan kebersihan. Terkait kebersihan, Abdan menjelaskan, pihaknya sudah menyediakan tempat sampah, meski jumlahnya belum optimal.

Setiap Jumat, juga dilakukan giat yang bekerjasama dengan Kantor Lingkungan Hidup (KLH). “Soal kebersihan sampah, hal ini terkait dengan kesadaran pengunjung. Meski demikian, itu risiko dari sebuah objek wisata. Selain menyediakan tempat sampah dan kerja bakti setiap Jumat, kami berupaya mengatasi genangan-genangan yang ada,” terangnya. (nam/jpnn/ric)