Ganjar Ingin Keterbatasan Akses Dijadikan Keunggulan

214

SEMARANG – Objek wisata alam digadang-gadang mampu menjadi magnet wisatawan domestik hingga mancanegara. Sulitnya akses menuju lokasi dan keterbatasan infrastruktur diharapkan justru menjadi keunggulan.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menceritakan, pengalaman Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ingin menjual salah satu wisata pantai. Hanya akses jalannya buruk. Bahkan, tidak ada penginapan di sekitar pantai itu.

Bupati mencoba mempromosikannya lewat internet. Dan ternyata, yang berminat datang adalah orang-orang mancanegara. Bahkan, wisatawan asing tersebut bisa tinggal berhari-hari di daerah itu, antara tiga hari sampai satu minggu.

”Mereka tidak ingin ada listrik, tidak ingin TV, tidak ingin sinyal. Mereka bersedia bayar Rp 3 juta menginap semalam. Jalan tanah tidak perlu diperbaiki. Atau dibuatkan cottage kecil-kecil dekat pantai. Bule senang yang alami,” ungkapnya, kemarin.

Menurut Ganjar, akses jalan yang sulit dilalui, bisa dikembangkan menjadi wisata trabas atau offroad. Sehingga untuk menuju objek wisata, ada tantangan yang harus dilalui. Sembari offroad, mereka bisa menikmati pemandangan alam.

Kini, Ganjar menantang para pegiat wisata di Jateng, untuk mampu mengemas kelemahan objek wisata alam di tiap daerah untuk memiliki nilai plus di mata wisatawan. ”Yang bisa dijual sekarang, yuk kita trekking. Jualannya jalan kaki lima kilometer. Nanti Anda akan melihat pemandangan ini, ini, dan ini. Yuk kita offroad. Maka kelemahan diangkat jadi kekuatan. Sehingga kita tidak terlambat menjual (pariwisata),” tegasnya.

Dari data milik Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, ada 147 desa wisata di Jateng yang sudah teregistrasi. Dari angka itu, yang berpotensi untuk dikembangkan ada sekitar 400 lokasi. ”Potensi terbanyak ada di Kabupaten Magelang, Wonosobo, Banjarnegara, Kabupaten dan Kota Semarang, Jepara, Solo dan sekitarnya,” ucap Kepala Disporapar Jateng, Urip Sihabuddin.

Menurutnya, pemkab dan pemkot sebagai pemilik wilayah belum memperhatikan potensi desa wisata di wilayahnya masing-masing. Dia mencontohkan, ketika pemprov memberi kesempatan untuk mengajukan bantuan keuangan untuk pengembangan pariwisata, ternyata tidak ada 1 persen yang mengusulkan.

Urip mengatakan, sebenarnya objek wisata alam masih banyak yang belum tergali. Terlebih di Jateng banyak daerah yang memiliki area pegunungan. Meski diakui akses menuju lokasi masih banyak kendala. Pihaknya juga meminta supaya atraksi seni dan budaya yang telah ditinggalkan masyarakat, kembali dibangkitkan kembali. Misalnya tradisi sedekah bumi yang biasanya tiap desa memiliki keunikan dan caranya sendiri.

”Orang saat ini sudah tak ingin berwisata di tempat modern, tapi alam dan budaya. Ini perlu diangkat kembali. Desa wisata juga tak butuh biaya, karena keseharian warganya sudah jadi objek tersendiri,” katanya. (amh/ric/ce1)