NAIK KE LANGIT : Umat Tionghoa sedang menjalankan sembahyang Sangsin yang merupakan ritual seminggu sebelum Tahun Baru Imlek di Klenteng Tay Kak Sie Kota Semarang, Sabtu sore (21/1) kemarin. (Nurchamim@radarsemarang.com)
NAIK KE LANGIT : Umat Tionghoa sedang menjalankan sembahyang Sangsin yang merupakan ritual seminggu sebelum Tahun Baru Imlek di Klenteng Tay Kak Sie Kota Semarang, Sabtu sore (21/1) kemarin. (Nurchamim@radarsemarang.com)

SEMARANG-Jelang tahun baru Imlek 28 Januari mendatang, Kelenteng Tay Kak Sie disibukkan dengan beragam rangkaian acara. Sabtu sore (21/1) kemarin, digelar acara Sembahyang Sangsin yang diikuti oleh jemaat klenteng dengan khidmat dan lancar.

“Ini upacara untuk mengantarkan dewa dapur Chao Kun Kong menuju ke surgaloka. Sembahyang ini dilakukan 7 hari sebelum hari H (Imlek),” Kata Tan Hin Tiong atau Agus Pratana, Pandita Sembahyang di Tay Kak Sie pada Jawa Pos Radar Semarang.

Sembahyang tersebut diawali dengan pembacaan mantra/paritta oleh pandita, kemudian mengelilingi kelenteng untuk memercikkan air kepada para dewa dan diakhiri dengan pembakaran teng ci sebagai penanda dewa dapur telah naik ke langit (sang sin).

“Setelah ini, ya bersih-bersih klenteng. Besok acaranya membersihkan Dewa-Dewi. Lha nanti pada tanggal 27 malam menjelang tahun baru ada sembahyang menyongsong tahun baru Imlek, kira-kira mulai pukul 23.00,” jelasnya.

Ditambahkan pula oleh pengurus sekretariat kelenteng, Hariyanto bahwa dalam mitologi dan budaya orang Tionghoa, setiap menjelang tahun baru dewa dapur, Chao Kun Kong naik ke hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk melaporkan kejadian di dunia dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

“Karena di setiap rumah itu kan ada dapurnya. Jadinya, tahu persis kelakuannya yang punya rumah. Punya dosa atau pahala, semua dicatat. Kemudian dilaporkan ke Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, nanti akan ada ritual lagi, ketika beliaunya turun,” tuturnya.

Dijelaskan juga bahwa sehari selepas Imlek, masyarakat Tionghoa biasanya berkumpul dengan keluarga untuk saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai. Baru keesokan harinya, pada 29 Januari melakukan Sembahyang Pembukaan Tahun.

“Hari ini kan dewa dapurnya naik, nanti akan ada juga ritual pada saat turun dari langit yaitu pada tanggal 31 Januari. Nah nanti ada Sembahyang Cap Go Meh bulan Februari mendatang, dilanjutkan dengan Sembahyang Ci Swa dan Po Un yaitu ritual tolak bala,” ujar Hariyanto.

Sementara itu, ritual tolak bala akan dilaksanakan 12 Februari mendatang, di Klenteng Tay Kak Sie yang merupakan kelenteng tua yang didirikan tahun 1746 di Jalan Gang Lombok No 62 Pecinan Semarang. “Ayam api itu kan bisa dimaknai ayam pandai mencari rejeki. Ayam suka mengais-ngais dimanapun tempatnya, bisa dapat makan. Itulah yang kita tiru semangatnya. Nah api itu kan panas, jadi kita sebagai manusia harus pandai menjaga dan mengendalikan diri, ya mengontrol nafsu,” tutupnya. (mg26/ida)