SEMARANG – Jalur-jalur alternatif yang ada di Jateng dianggap belum layak, salah satu faktornya penerangan masih minim. Oleh karena itu DPRD meminta agar pemprov memikirkan kondisi jalan-jalan alternatif agar bisa dilewati dengan nyaman dan aman.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso mengaku kerap mendapatkan keluhan dari masyarakat. Sebab, banyak jalur alternatif yang kondisinya belum memadai. Mulai dari kondisi jalan kurang bagus, sampai penerangan yang minim. “Ini keluhan masyarakat, pemprov harus mulai memperhatikannya,” katanya.

Ia mencontohkan, jalur alternatif dari Pemalang sampai Purbalingga kondisinya masih gelap gilita. Selain itu, jalur alternatif yang menghubungkan Karanggayar-Ngadirejo Wonogiri tidak kalah berbeda. Padahal, jalur tersebut sangat vital dan bisa menjadi titik untuk mengurangi kemacetan di jalur utama. “Kondisi ini membuat jalan alternatif rawan kecelakaan dan belum dilirik sebagai jalur pilihan masyarakat,” ujarnya.

Dewan berharap jalur alternatif bisa mendapatkan perhatian. Apalagi tahun ini ada anggaran sekitar Rp 16 miliar untuk penerangan jalan. Meski begitu, diakui banyak kendala yang menyebabkan kondisi jalur alternatif gelap. Misalnya jalur di tengah hutan, ketika dipasang lampu tidak bisa bertahan sampai dua bulan dan hilang dicuri. “Anggaran untuk penerangan memang besar, mulai dari pemasangan sampai menyala di satu titik membutuhkan Rp 400-600 ribu,” tambahnya.

Sekretaris Komisi D DPRD Jateng, Jayus berharap pemprov bisa menggunakan penerangan jalan dengan energi terbarukan. Tetapi lokasi yang dipilih harus tepat sehingga bisa berdampak pada perekonomian masyarakat lokal agar bisa lebih maju. “Artinya jalan yang mendapat penerangan haruslah ramai dilewati jalur ekonomi masyarakat. Jadi dampaknya langsung dirasakan,” tambahnya. (fth/zal)