SEMARANG – Delapan penjual minuman keras oplosan digelandang aparat Polrestabes Semarang. Petugas juga mengamankan barang bukti 733,5 liter miras jenis ciu dan ginseng.

Mereka adalah Karsini, 42, warga Pedurungan, R Andri W, 32, warga Semarang Barat, Joko Santosa, 26, Jumaini, 41, keduanya warga Kecamatan Genuk, Sunarmi, 54, warga Semarang Utara.

Kemudian, Bekan, 29, warga Semarang Tengah, Jasmani, 57, warga Pedurungan, Suratmi, 61, warga Semarang Utara. Delapan orang ini diamankan dalam razia penyakit masyarakat (pekat) selama tiga hari, yakni sejak Senin (16/1) sampai Rabu (18/1) lalu. “Miras oplosan ini didapatkan dari wilayah Solo. Kelurahan Semanggi dekat Pasar Kliwon,” ungkap Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, Jumat (20/1).

Miras oplosan tersebut didrop dari Solo dengan kemasan jerigen. Selanjutnya, dari pedagang dijual secara eceran dengan kemasan botolan air mineral kisaran harga Rp 10 ribu per liter.
“Harga kulaknya ini Rp 8.700. Penjualanya ada yang polos ada juga yang dicampur kunyit,” terangnya.

Miras oplosan ini diedarkan di Kota Semarang diantarnya di wilayah Semarang Barat, Tengah, Pedurungan, Banyumanik dan Semarang Utara. “Miras ini sangat membahayakan, membuat kepala pening, pusing, tidak bisa berfikir secara jernih. Bisa memicu untuk berbuat tindak perkelahian bahkan sampai tindak kejahatan,” tegasnya. Bahkan, miras oplosan telah sering menimbulkan korban jiwa bagi yang mengkonsumsinya.

Joko Santoso, pedagang miras oplosan mengaku setiap harinya mampu menjual 20 liter miras oplosan yang hanya dibuat dengan bahan alkohol berkadar 96 persen.”Beli alkohol 96 persen. Jualan di Jalan Majapahit yang beli ada tukang becak, kuli bangunan juga,” ujarnya

Berbeda dengan, Joko Santoso, Sunarmi mengaku telah menjual miras oplosan tersebut kurang lebih 13 tahun. Miras tersebut didapat dari seseorang yang mengaku dari daerah Solo. Dijual dengan harga kisaran Rp 21 ribu per botol air mineral besar. Sedangkan botol kecil dijual Rp 11 ribu. (mha/zal)