33 C
Semarang
Kamis, 24 September 2020

Kios Permanen Berdiri di Jalur Hijau

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

”Awalnya lahan kosong, saat ini mulai didirikan kios-kios. Bahkan kios dibangun secara permanen. Padahal itu wilayah hijau, dilarang ada PKL.” MF, Warga di Jalan Jolotundo

”Sekarang malah mendirikan kios permanen. Pemkot harusnya melakukan penindakan kalau memang itu ditetapkan jalur hijau, biar bersih kotanya.” Mus, Warga di Jalan Jolotundo

”Itu tempat larangan untuk berjualan.” Sudibyo, Kasi Operasi dan Penindakan Satpol PP Kota Semarang

SEMARANG – Meski telah ditetapkan sebagai jalur hijau alias kawasan terlarang untuk aktivitas berdagang, sepanjang Jalan Jolotundo Semarang ternyata belum steril dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Bahkan saat ini mulai bermunculan kios-kios permanen.

Entah kurang sosialisasi dari pemerintah ataukah memang pedagang bandel dan nekat mendirikan kios di wilayah tersebut. Faktanya, mereka dibiarkan dan tidak ada penindakan penertiban oleh Satpol PP. Dikhawatirkan, jika satu PKL berani muncul dan tidak ada penindakan, akan disusul oleh PKL lainnya.

Menurut salah satu warga di Jalan Jolotundo, MF, 45, saat ini sejumlah PKL mulai mendirikan kios-kios di kawasan tembus antara Jalan Kartini dan Jalan Jolotundo Semarang. Padahal berada di bawah menara Sutet bertegangan tinggi. ”Awalnya lahan kosong, saat ini mulai didirikan kios-kios. Bahkan kios dibangun secara permanen. Padahal itu wilayah hijau, dilarang ada PKL,” katanya.

Kalau menurut aturan, kata dia, tentu saja kios-kios tersebut melanggar aturan. Pihaknya selaku warga bukan mempersoalkan pemilik kios mendirikan sebuah usaha. Tetapi jika tidak tertib aturan, misalnya melanggar Perda, tentu ke depan akan berdampak tidak baik. ”Hampir bisa dipastikan, selanjutnya nanti akan diikuti PKL lain,” katanya.

Ia mengaku mendukung warga yang berinisiatif berwirausaha. Tetapi seharusnya, pelaku usaha seperti PKL ini mengerti aturan yang diterapkan. Dan keberadaan PKL yang berada di kawasan terlarang seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. ”Pemkot harusnya melakukan penertiban. Dampaknya mengakibatkan kawasan ini menjadi kumuh. Warga di sekitar lokasi juga terganggu kalau semakin banyak PKL berdiri,” katanya.

Warga lain Mus, 34, juga mengungkapkan pendapat serupa. Bahkan sebelumnya telah dilakukan penertiban oleh petugas Trantib Pemkot Semarang. Tetapi entah kenapa, pedagang kembali berjualan. ”Sekarang malah mendirikan kios permanen. Pemkot harusnya melakukan penindakan kalau memang itu ditetapkan jalur hijau, biar bersih kotanya,” kata dia.

Terpisah, Kasi Operasi dan Penindakan Satpol PP Kota Semarang, Sudibyo, mengatakan, sepanjang jalan tembus dari Jalan Kartini-Jalan Jolotundo merupakan kawasan hijau yang telah ditetapkan oleh Pemkot Semarang. Artinya, tidak boleh ada PKL berjualan di lokasi tersebut. Apalagi mendirikan kios permanen. ”Itu tempat larangan untuk berjualan,” katanya.

Mengenai keberadaan munculnya kios-kios permanen tersebut, Sudibyo mengaku belum mengetahui secara langsung. ”Jika memang ada PKL yang berjualan di tempat tersebut, akan kami tertibkan. Itu memang tempat larangan bagi PKL,” katanya. (amu/ida/ce1)

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Peluang Kerja Terbuka Lebar

SEMARANG- Peluang kerja bagi mahasiswa Politeknik Bina Trada Semarang masih terbuka lebar. Pasalnya, di rumah sakit di Jawa Tengah sendiri masih membutuhkan sekitar 30...

Alas Kaki Simpel dan Nyaman Sedang Tren

SEMARANG – Selain desain yang menarik, kenyamanan saat dikenakan juga menjadi salah satu faktor penentu dalam pemilihan alas kaki. Hal ini seiring dengan aktivitas...

Dorong Perda Difabel

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Pada tahun 2012 Kota Salatiga mendeklarasikan sebagai kota inklusi, namun Pemkot belum bisa dilaksanakan secara menyeluruh. Meski begitu Pemkot terus berupaya...

Atlet Ribuan, Tapi Minim Kejuaraan Taekwondo

SEMARANG – Perkembangan olahraga taekwondo di Kota Semarang sangat pesat. Saat ini jumlah atlet taekwondo di Kota Lunpia ini berjumlah ribuan. Hal tersebut bisa...

KPU Harus Jaga Netralitas

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - DPRD Jateng meminta agar semua penyelenggara Pilkada 2018 benar-benar bisa menjaga netralitas dan profesional. Dengan begitu, maka akan bisa terlaksana pelaksanaan...

Pekan Raya Akutansi Polines

RADARSEMARANG.COM - HIMPUNAN Mahasiswa Jurusan Akutansi Politeknik Negeri Semarang akan menyelenggarakan Pekan Raya Akutansi berjudul “Celebration Of Ancient’s Glorious Eve”. Puncak acara digelar 29...