Kesadaran Rendah, Angka Putus Sekolah Tinggi

953

PEKALONGAN – Angka putus sekolah masih tinggi, bukan karena tidak mampu membayar biaya sekolah, melainkan karena kesadaran untuk menempuh pendidikan formal rendah. Lurah Klego, Suwarno menyebutkan ada 40 anak dengan usia 7 hingga 18 tahun yang tidak sekolah karena malas dan merasa tidak butuh sekolah.

Hal demikian, ia sampaikan saat acara sarasehan sepeda K3 di Kantor Kelurahan Klego, Jumat (20/1). Namun, sekarang sejumlah anak tersebut sudah dibimbing oleh lembaga pendidikan bernama Aminah untuk mengejar pendidikan paket A, B dan C.

Selain angka putus sekolah tinggi, wilayah kumuh juga menjadi masalah di kelurahan tersebut. Setidaknya ada dua Rukun Warga (RW), yakni RW 2 dan RW 7, menjadi wilayah terkumuh. Ia menyebutkan ada 478 Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di wilayah tersebut. “Di daerah tersebut sempit, terus penataan rumah kurang memperhatikan lingkungan, sehingga akses jalan sempit,” jelasnya.

Tak hanya itu, faktor ekonomi juga memengaruhi keadaan wilayah tersebut menjadi kumuh. “Rob juga menyumbang wilayah kumuh, terutama di RW 1,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pekalongan, Saelany Mahfudz, merasa kecewa karena tingginya angka putus sekolah disebabkan oleh faktor kemalasan anak-anak di daerah tersebut, bukan faktor biaya. “Jika anak putus sekolah karena terhambatnya biaya maka Pemkot Pekalongan siap membantu. Tapi kalau karena mereka yang malas kan sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Sedangkan untuk permasalahan lain, seperti RTLH, wilayah kumuh atau infrastruktur rusak. Menurutnya pada kesempatan tersebut ada kepala SKPD terkait hadir, sehingga bisa langsung ditindaklanjuti. “Keluhan akan langsung ditindaklanjuti SKPD terkait, dan kami akan memonitoring kerjanya,” tandasnya. (tin/ric)