Toko Tembakau Mukti Berdiri sejak 1895

Toko-Toko Legendaris yang Tetap Eksis di Kota Semarang (1-Bersambung)

3898
GENERASI KETIGA: Kusuma Atmaja Agung, generasi ketiga toko Tembakau Mukti yang kini menjadi Kafe Tembakau Pipa Mukti. (Abdul.muhgis@radarsemarang.com)
GENERASI KETIGA: Kusuma Atmaja Agung, generasi ketiga toko Tembakau Mukti yang kini menjadi Kafe Tembakau Pipa Mukti. (Abdul.muhgis@radarsemarang.com)

Toko tembakau di Kota Semarang ini telah beroperasi sejak 1895 silam. Hingga sekarang, toko legendaris ini tetap eksis dan konsisten menyediakan berbagai jenis tembakau nusantara. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS 

BAGI pencinta tembakau, tak sempurna rasanya kalau belum mampir di Toko Tembakau Mukti yang terletak di ujung Jalan KH Wahid Hasyim 2A Kranggan Semarang, depan gerbang kawasan Pecinan Semarang. Beraneka ragam jenis tembakau bisa dicicipi di tempat ini, sembari menikmati secangkir kopi hitam. Tersedia pula Papir (Cigarette Paper) untuk menikmati sensasi Tingwe (Linting Dewe), maupun menggunakan berbagai jenis pipa tembakau atau cerutu.

Pemilik sekarang, Kusuma Atmaja Agung, 69, merupakan generasi ketiga, pewaris secara turun temurun sejak toko tersebut beroperasi pada 1895 silam. Nama toko tersebut kini diubah kekinian menjadi Kafe Tembakau Pipa Mukti. Karena selain menyediakan berbagai jenis tembakau, di lantai dua didirikan kafe tempat kongkow bagi pecinta tembakau. Banyak pengunjung dari lintas daerah, bahkan wisatawan mancanegara untuk sekadar singgah di toko tembakau tertua di Kota Semarang, bahkan bisa jadi tertua di Indonesia ini.

Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke toko ini , Kamis (19/1) kemarin. Memasuki bagian depan toko, tampak berjajar toples kaca berukuran besar, masing-masing berisi berbagai macam jenis rajangan tembakau. Selain itu, di etalase tembok terdapat berbagai macam tembakau aneka rasa yang sudah dikemas plastik.

Seorang wanita penjaga toko pun menjelaskan bahwa semua tembakau original dari petani berbagai daerah di Indonesia. Tak lama kemudian, seorang lelaki parlente berkaos kerah warna putih menyambut koran ini. Dia adalah Kusuma Atmaja Agung, pemilik toko. Ia kemudian mengajak berjalan-jalan menyusuri deretan dinding toko sembari bercerita.

“Toko ini berdiri sejak 1895. Didirikan oleh kakek saya, Yap Kay Tjay. Petani tembakau yang datang dari negeri Tiongkok,” kata Agung membuka obrolan.

Menurut Agung, kakeknya merupakan pencinta tembakau sekaligus pengusaha. Awal kedatangannya di Indonesia, kali pertama masuk di daratan Surabaya. Kemudian berkeliling untuk menemui para petani tembakau di Pulau Jawa, sebelum akhirnya menetap di Semarang. “Kakek Yap Kay Tjay mempersunting istri, seorang selir salah satu Raja Cirebon,” ceritanya.

Kegigihannya berdagang hingga menyusuri berbagai pelosok nusantara, untuk mencari petani tembakau. Mulai daerah Surabaya, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, Madura, Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat. Bahkan hingga Lombok, Sopeng dan Toraja Sulawesi Selatan, Sumatera, dan lain-lain. “Hampir semua jenis tembakau dari berbagai daerah di Indonesia ada,” katanya.

Tentu setiap kali mampir di berbagai daerah, Kakek Yap Kay Tjay mencicipi rasa tembakau tersebut. “Hasil panen petani tembakau dulu dipikul. Orang Jawa memiliki tradisi Tingwe atau nglinting dewe. Nah, keistimewaan tembakau Indonesia, ternyata memiliki rasa dan karakteristik berbeda-beda di setiap daerah. Jadi, tembakau Indonesia istimewa, karena memiliki berbagai macam rasa berbeda. Kalau tembakau Philipina misalnya, ya rasanya satu (seragam),” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tembakau terbesar di dunia. Selain itu, menghasilkan tembakau yang berkualitas. Tetapi diperlukan pengetahuan dan cara mengelola tembakau mulai dari awal menanam sampai panen. Ini yang dilakukan Yap Kay Tjay sepanjang hidupnya.

Setelah Yap Kay Tjay meninggal, usaha tembakau tersebut diwariskan kepada anaknya, Bram Mukti Agung, ayah kandung Agung. “Saya mengelola sejak tahun 1968, hingga sekarang kurang lebih telah 49 tahun. Yang meneruskan hanya saya. Usaha ini warisan turun-temurun. Bahkan semua jaringan petani tembakau di berbagai daerah juga turun-temurun,” katanya.

Dijelaskannya, pengolahan tembakau tersebut memiliki proses panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebab, setiap produk tembakau hasil panen dari petani tidak bisa langsung dijual atau dikonsumsi. Melainkan harus melalui proses penimbunan terlebih dahulu.

“Setelah tembakau dipanen oleh petani, harus diperam (proses timbun) minimal dua tahun. Baru bisa dikonsumsi atau dipasarkan. Dua tahun itu minimal, lainnya ada yang 5,6,7,8, hingga 9 tahun. Bahkan ada yang ditimbun 19 tahun. Semakin lama ditimbun, tembakau semakin harum. Harganya semakin mahal. Ada tembakau garangan timbunan 19 tahun silam, harga sekilo mencapai Rp 2,5 juta. Ini termasuk tembakau tua,” ujarnya.

Selama ini, ia bekerja sama dengan para petani di berbagai daerah. Seperti di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, jaringan petani tembakau seluruh nusantara tersebut juga merupakan warisan turun temurun. “Petaninya juga turun temurun. Orang kuno-kuno memiliki karakter yang konsisten. Saling percaya,” katanya.

Usai mendapatkan berbagai macam jenis tembakau lintas daerah, ia kemudian menimbunnya di pabrik pengolahan tembakau miliknya di daerah Weleri Kendal. Selain, menjual tembakau eceran, ia juga memproduksi olahan tembakau cerutu berbagai variasi rasa, mulai vanila, kopi, cokelat dan lain-lain.

“Ke depan, kami bikin rokok Kretek Mukti. Perizinannya sedang kami urus,” ujar Agung sembari menjelaskan nantinya, usaha tersebut akan diwariskan kepada anaknya, Kasigit Agung, sebagai generasi penerus.

Salah satu pengembangan Toko Tembakau Mukti adalah adanya kafe di lantai dua. Pada 16 Februari mendatang, kafe tersebut akan berulang tahun yang ketiga. Agung berinisiatif untuk menyediakan tempat yang asyik agar bisa digunakan para penikmat tembakau untuk berkumpul sekaligus ngopi.

Ia menggandeng seorang pemuda peneliti tembakau di Semarang, Radika Perdana. Radika didapuk sebagai operasional penggerak usaha kafe tembakau Mukti tersebut. Selain dapat menikmati aneka jenis tembakau, kafe ini juga menyediakan berbagai informasi pengetahuan tembakau baik dari dalam maupun luar negeri. Tentu, Mukti menjadi satu-satunya kafe tembakau di Semarang. Para pencinta rokok tembakau kerap hilir mudik.

Berbagai komunitas, seperti Pipe and Tobacco Club Indonesia (PTCI), Komunitas Zippo, maupun Komunitas Perokok Bijak (KPB) Semarang kerap berkumpul untuk sekadar berdiskusi maupun mempraktikkan merokok dengan cara melinting.

“Rata-rata pengunjungnya adalah langganan, komunitas dan pencinta tembakau. Mereka berasal dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar kota. Bahkan juga wisatawan mancanegara,” kata Radika.

Biasanya, lanjut Radika, pembeli merupakan rombongan. Tidak sekadar membeli, tetapi juga ngobrol santai dengan pemilik toko dan pengelola. “Satu rombongan bisa lima orang. Kami seringkali berdiskusi perkembangan bisnis tembakau di Indonesia, maupun masa depan petani tembakau,” ujarnya.

Mukti Kafe, kata Radika, menyediakan banyak tembakau khas nusantara, bisa diracik sesuai dengan kebutuhan. Beragam rasa bisa digunakan untuk menemukan sensasi rasa baru. Misalnya, rasa mint, stroberi, vanila, cokelat, kopi, maupun rasa lain yang disukai kaum muda. “Harganya beragam, mulai yang murah hingga yang mahal,” katanya.

Radika mengaku, seringkali prihatin melihat perkembangan bisnis tembakau Indonesia maupun nasib para petani Indonesia. Sebab, sejauh ini bisnis tembakau nasional sedang terserang dominasi asing. Rokok kretek nasional tergeser oleh datangnya berbagai rokok dari luar negeri.

Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Prof Purbayu Budi Santoso mengakui, adanya pertarungan politik internasional untuk berupaya menguasai pasar tembakau Indonesia dengan berbagai cara. Sehingga hal itu menyebabkan tembakau di Indonesia terancam digantikan dengan tembakau luar negeri (impor). “Upaya itu sangat jelas. Pemerintah harus hati-hati, jangan sampai kebijakannya menyudutkan petani. Rokok bukan komoditi yang bisa disepelekan,” kata Prof Purbayu.

Dia menyebut salah satu kebijakan yang akan merugikan petani tembakau adalah adanya perjanjian konvensi pengendalian tembakau melalui Frame Work Convention on Tobacco Control (FCTC) atau kerangka kerja penggunaan tembakau menjadi undang-undang. “Salah satu poinnya adalah menurunkan kadar nikotin. Ini belum ratifikasi, tetapi nyatanya tetap impor tembakau asing,” ungkapnya.

Menurutnya, mengenai poin menurunkan kadar nikotin ini harus dikaji ulang. Sebab, apakah benar tembakau Indonesia memiliki kadar nikotin tinggi dan mengandung racun yang merugikan kesehatan? “Jangan hanya mengadopsi itu, dan harus dikoreksi. Sebab, ini ranah ilmiah. Pemerintah harusnya membuat tim independen untuk melakukan penelitian terkait tembakau kaitannya dengan kesehatan,” cetusnya.

Sebab, lanjut Prof Purbayu, tembakau sendiri memiliki sejarah yang merupakan tumbuhan obat-obatan. Tapi kenapa lambat laun dituding menjadi sumber penyakit. “Bukti-bukti banyak menyebut, pengidap penyakit jantung dan paru-paru bukan di negara rokok,” katanya.

Menurutnya, diperlukan keberanian untuk melawan aturan main atas perjanjian FCTC tersebut. Indikasi lain, kata Purbayu, kekuatan asing mencaplok pasar tembakau adalah akuisisi rokok Bentoel dan Djie Sam Soe Sampoerna sudah dikuasai Philip Morris. “Ini sangat jelas. Jika dibiarkan, tembakau akan bernasib sama seperti halnya minyak klentik (minyak goreng) zaman dulu yang hilang. Kita ditipu,” tegasnya.

Dikatakannya, pemerintah jangan hanya mau menerima cukainya saja. Tapi di sisi lain menyudutkan petani. Ia mengungkapkan adanya motif ekonomi di balik konvensi FCTC tersebut. “Terdapat kepentingan bisnis pihak tertentu untuk meraih pasar nikotin yang sangat besar,” katanya. (*/aro)