Penderita HIV/AIDS Capai 356

649

“Mereka nggak mau mengonsumsi ARV. Alasannya mungkin dampak negatif tidak mengkonsumsi obat, tidak bisa dirasakan sekarang.” Sukini, Petugas P2P Puskesmas Selomerto

WONOSOBO—Efektivitas sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS dan layanan Test VCT (tes untuk mengetahui seseorang positif HIV atau tidak) melalui sejumlah even, dianggap belum terlalu efektif. Sebab, meski upaya tersebut sudah berlangsung lama, Komite Penanggulangan AIDS (KPA) baru mampu menjangkau 10 persen, dari total keseluruhan warga.

“Karena itu, ke depan akan ada terobosan baru, seperti misalnya pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA). Tujuannya, agar warga yang berisiko, mau memeriksakan diri secara suka rela,” kata Sekretaris KPA Heri Purwanto, Kamis (19/1) kemarin.

Heri Purwanto membeber, jumlah pengidap HIV/AIDS di Wonosobo per 31 Desember 2016 lalu, sudah tercatat 356 orang. Data tersebut, dihasilkan dari pendekatan model jangkau sasaran. Dengan kata lain, petugas KPA mendatangi langsung komunitas-komunitas tertentu, menggelar even-even, lantas melakukan tes VCT. “Yang dijangkau dari pola itu sangat kecil, tidak sampai sepuluh persen,” katanya kembali menandaskan.

Heri melanjutkan, jika warga tergerak memeriksakan diri secara sukarela, maka orang yang terdeteksi AIDS diyakini jumlahnya lebih banyak. “Meski secara jumlah sangat banyak, tapi kita jadi tahu data pastinya. Sehingga ketika kita menawarkan solusi, bisa lebih tepat.”

Selain pola pendekatan yang dinilai belum tepat, minimnya kesadaran pengidap mengonsumsi ARV (Anti-Retroviral Virus) juga masih rendah. Dari total 356 pengidap, baru 80 orang yang rutin mengonsumsi. “Ini juga menjadi perhatian kami, sebab ketika tidak mengonsumsi ARV secara rutin, maka potensi naik level ke AIDS, berpotensi menularkan semakin besar.”

Hal senada disampaikan petugas program Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Puskesmas Selomerto, Sukini. Menurut perempuan paruh baya ini, sejak diselenggarakan VCT di Puskesmas Selomerto, tercatat 11 orang dinyatakan positif. Ironisnya, yang mau datang mengambil dan mengonsumsi obat ARV hanya 8 orang.

“Sisanya sudah dihubungi berkali-kali tetap nggak mau datang. Mereka nggak mau mengonsumsi ARV. Alasannya mungkin dampak negatif tidak mengkonsumsi obat, tidak bisa dirasakan sekarang.”

Dari 11 orang yang dinyatakan positif, hanya seorang yang bukan asli Wonosobo. Hal itu sekaligus menampik anggapan bahwa yang dinyatakan positif, didominasi warga pendatang. “Semuanya penduduk asli, kecuali yang satu itu, dia dari kota tetangga,” katanya menjawab pertanyaan koran ini. (cr2/isk)