BAHAYA : Bencana longsor kembali terjadi di Desa Adikarto, Kecamatan Kaliangkrik, kemarin. (Mukhtar.lutfi@radarkedu.com)
BAHAYA : Bencana longsor kembali terjadi di Desa Adikarto, Kecamatan Kaliangkrik, kemarin. (Mukhtar.lutfi@radarkedu.com)

MUNGKID—Curah hujan tinggi mengancam bencana longsor di wilayah Kabupaten Magelang. Usai menutup Jalan Magelang-Boyolali, kini jalan antar-desa di Kecamatan Kaliangkrik, juga terdampak bencana serupa. Bahkan, bencana yang terjadi di Dusun Prampelan, Desa Adipuro ini, berlangsung dua hari berturut-turut. Titik longsor juga ada di satu lokasi.

Keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, longsor pertama terjadi Rabu (18/1). Petugas melakukan pembersihan, sehingga akses sudah bisa dilalui kendaraan.

Pagi kemarin (19/1), longsor kembali terjadi. Material longsor berasal dari tebing setinggi 5 meter. “Panjang longsoran mencapai 10 meter, dengan ketebalan dua sampai tiga meter,” kata Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto

Dikatakan, longsor di Dusun Prampelan, sudah terjadi dua kali dalam dua hari di titik yang sama. “Baru saja habis dibersihkan, pagi tadi sudah tertimbun longsor lagi,” kata Edy.

Material longsor hanya menutup akses jalan antar-desa. Artinya, tidak sampai menimbun rumah warga. Meski begitu, aktivitas kendaraan terganggu, lantaran warga harus memutar beberapa kilometer.

Hingga kemarin, proses pembersihan material longsoran masih terus dilakukan para relawan TNI Polri dan masyarakat sekitar. “Kita lakukan antisipasi untuk longsor susulan.” Edy mengatakan, longsor susah terjadi berkali-kali selama Januari ini. Penyebabnya, curah hujan cukup tinggi.

Terpisah, longsor juga terjadi di kawasan kaki gunung Merbabu Magelang, tepatnya di wilayah Desa Wulunggunung, Kecamatan Sawangan.

Sekretaris Kecamatan Sawangan Widodo SH mengatakan, longsor yang terjadi di Desa Wulunggunung. Longsor berdampak pada dua rumah warga, baik yang berada di atas tebing yang longsor maupun yang berada di bawah bukit. “Longsor akibat curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama.”

Menurut Widodo, tebing tinggi sekitar 5 meter mendadak longsor. Material longsoran menimpa rumah Pardi, yang terbuat dari bahan kayu. Akibatnya, beberapa bagian rumah korban mengalami kerusakan.

Longsornya tebing juga berdampak terhadap bangunan rumah Kamdi yang berada di atas bukit. “Karena tanah di bawahnya terbawa longsor, sebagian bangunan rumah Kamdi keberadaan menggantung. Tidak sedikit barang yang berada di ruangan tersebut ikut berjatuhan.”

Kepala Kelurahan Wulunggunung Munawar menyampaikan, areal bukit yang longsor, panjangnya sekitar 11-12 meter. Masyarakat bersama relawan beberapa komunitas, TNI Polri maupun lainnya, melakukan kerja bakti. Mereka membersihkan material longsor serta membenahi bangunan yang rusak. (vie/jpg/isk)