Longsor, Batu 1 Meter Hantam Sekolah

528
LONGSOR : Bagian bangunan SMPN 3 Banyubiru porak poranda akibat diterjang batu berdiameter satu meter, kemarin. (Eko.wahy.budiyanto@radarsemarang.com)
LONGSOR : Bagian bangunan SMPN 3 Banyubiru porak poranda akibat diterjang batu berdiameter satu meter, kemarin. (Eko.wahy.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN–Batu berdiameter satu meter dan 30 sentimeter menghantam bagian gendung SMPN 3 Banyubiru. Batu tersebut merupakan material longsor dari Bukit Gunung Kelir di wilayah Dusun Kendal Ngisor, Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru.

Dimana lokasi longsor berada persis di belakang bangunan sekolah tersebut. Atap bangunan musala sekolah pun jebol dijatuhi batu berdiameter satu meter, sedangkan tembok ruang kesiswaan dan gudang jebol dihantam oleh batu berdiamter 30 sentimeter. “Bukit yang tingginya lebih dari 200 meter itu longsor. Material batunya menimpa bangunan sekolah kami,” ujar Kepala SMPN 3 Banyubiru, Purnomo, Kamis (19/1) kemarin.

Kebetulan, letak bangunan berada persis di tepi tebing bukit Gunung Kelir. Dijelaskan Purnomo, longsor terjadi pada Rabu (18/1) sekitar pukul 17.00 usai hujan deras. Akibat bukit tidak bisa menampung tingginya debit air hujan, longsor pun tak terelakkan. Untung saja, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut, mengingat aktivitas kegiatan belajar mengajar sudah selesai. “Sekolah sudah kosong,” ujar Purnomo.

Hanya saja, bangunan atas musala serta bagian atas dan tembok di bangunan yang difungsikan sebagai ruang kesiswaan dan gudang jebol dengan diameter lubang sekitar 50 sentimeter. Bahkan kaca jendela ruang kesiswaan pecah akibat terkena serpihan batu. “Kami masih menghitung kerugiannya. Tapi ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” katanya.

Bagi para guru dan siswa SMPN 3 Banyubiru, longsor Bukit Gunung Kelir bukan hal aru. Longsor tersebut sudah ketiga kalinya menimpa sekolah tersebut. “Batu yang jatuh itu adalah sisa batu yang belum jatuh saat kejadian kedua. Posisinya menggantung di tebing paling atas, hampir di puncak tebing,” kata Purnomo.

Tingginya potensi tertimpa material longsoran, lantaran lokasi bukit tepat berada di belakang kompleks sekolahan. Jaraknya hanya beberapa meter dari bronjong batu yang berfungsi sebagai pagar belakang sekolah. Pantauan lapangan, kegiatan belajar mengajar di SMPN 3 kemarin berjalan normal. Para guru dan siswa tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tidak terpengaruh dengan kejadian longsor. “Kalau lokasi ruang kelas dan tebing cukup jauh, jaraknya sekitar 50 meter sehingga masih aman,” katanya.

Sementara itu, di waktu yang nyaris bersamaan, bencana alam usai hujan deras juga menghajar sejumlah wilayah di Kabupaten Semarang. Jalan penghubung Kecamatan Kaliwungu – Susukan, di wilayah Dusun/Desa Rogomulo, Kaliwungu, gorong-gorong di bawah badan jalan jebol lantaran tergerus air. Akibatnya badan jalan berlubang dengan diameter sekitar satu meter.

Di wilayah Dusun Krajan, Desa Kalikurmo, Kecamatan Susukan, talud sungai setempat tergerus air hingga permukaan air sungai rata dengan tanah sekitarnya. Beruntung air sungai tidak sampai meluap seiring meredanya hujan.

Kepala BPBD Kabupaten Semarang Heru Subroto mengaku sudah menerjunkan tim ke tiga titik yang terkena bencana tersebut. Penanganan sementara, mengantisipasi kejadian susulan. Di SMP 3 Banyubiru, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga untuk penanganan bangunan yang rusak. “Nanti akan dibahas bagaimana formulasi yang tepat untuk penanganan longsor di Wirogomo,” katanya.

Di jalan penghubung Kaliwungu – Susukan, pihaknya sudah membuat pengaman dari bambu dan batang pohon pisang sebagai antisipasi kecelakaan lalu lintas. “Agar pengendara yang melintas tidak jatuh ke lubang itu,” katanya.

Sedangkan sungai di Kalikurmo, BPBD akan menggandeng desa setempat, mengerahkan warga untuk kerja bakti membuat talud. “Kami menyiapkan logistik dan karung untuk membuat talud, sementara agar saat hujan air sungai tidak meluap,” katanya. (ewb/ida)