EKSEKUSI : Ir M Syukron Najib (jaket abu-abu, red) dieksekusi pihak Kejari Batang setelah terbukti melakukan korupsi dan kasasiya ditolak MA RI. (Nurul.fatah@radarsemarang.com)
EKSEKUSI : Ir M Syukron Najib (jaket abu-abu, red) dieksekusi pihak Kejari Batang setelah terbukti melakukan korupsi dan kasasiya ditolak MA RI. (Nurul.fatah@radarsemarang.com)

BATANG-Kasus dugaan korupsi dalam proyek pemeliharaan berkala jalan Bawang-Pranten tahun 2007, tidak hanya menyeret rekanan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) saja. Setelah keduanya menjalani masa hukuman di Rutan Rowobelang sejak beberapa waktu lalu, giliran Konsultan Pengawas Proyek Kamis (19/1) kemarin dieksekusi untuk dimasukkan penjara.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa Kejaksaan Negeri (Kejari) Batang telah melakukan eksekusi terhadap rekanan Pemkab Batang, yakni Lukman Hakim selaku Direktur PT Indoberk Cabang Semarang, pada 21 Mei 2014 lalu dengan pidana kurungan 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider kurungan 6 bulan serta harus membayar uang pengganti (UP) sebesar Rp 713 juta subsider 1 tahun penjara.

Kemudian, pada Desember 2016 lalu, PPKom, Karso SIP, warga Desa Sempu, Kecamatan Limpung dieksekusi dengan pidana kurungan 4 tahun 6 bulan dan denda Rp 200 juta subsider kurungan 6 bulan.

Kini giliran Ir M Syukron Najib warga Semarang selaku Konsultan Pengawas yang juga Direktur Utama (Dirut) CV Citra Yasa, yang dieksekusi, setelah kasasi yang diajukan ditolak oleh Mahkamah Agung. Syukron harus menjalani pidana kurungan 4 tahun di Rutan Rowobelang, Batang, dengan denda Rp 200 juta subsider kurungan 1 bulan.

Kepala Kejari Batang Edi Ermawan SH MH melalui Kasi Pidsus Surono SH MH, menjelaskan bahwa Syukron merupakan konsultan pengawas dalam proyek pemerintah berupa pemeliharaan berkala jalan Bawang-Pranten tahun 2007 dengan nilai kontrak sebesar Rp 2.268.514.000. “Ternyata dalam pengerjaan proyek tersebut, dari hasil hitungan BPKP ditemukan kerugian negara sebesar Rp 784.602.096,” terang Surono.

Setelah adanya temuan tersebut, kemudian terdakwa menjalani persidangan dan diputuskan jika terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Pengadilan Tinggi selanjutnya menjatuhi hukuman terhadap terdakwa, pidana kurungan 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider kurungan 1 bulan.

Dari hasil putusan PT, imbuhnya, terdakwa kemudian mengajukan kasasi ke MA. Setelah Kejari Batang menerima salinan putusan Kasasi MA Nomor 2059K/Pid.Sus/2014 yang menyatakan kasasi terdakwa ditolak, barulah Kejari Batang melakukan eksekusi dan memasukkan terdakwa ke Rutan Rowobelang, Batang untuk menjalani proses pidana.

Surono menambahkan bahwa temuan di lapangan menunjukkan hasil pekerjaan rekanan tidak sesuai dengan kontrak dan Rencana Anggaran Belanja (RAB) yang menyebabkan kerugian negara. Bahkan, setelah dicek oleh BPKP, ada temuan kerugian negara yang mencapai jutaan rupiah. “Pada prinsipnya, kami selaku jaksa, memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan kasasi. Karena sudah ada keputusan bahwa kasasi ditolak, maka kami melaksanakan eksekusi sampai tuntas,” katanya.

Sebelum proses eksekusi, terdakwa dimintai keterangan dan dijelaskan bahwa kasasi yang diajukan ditolak oleh MA. Untuk terdakwa sendiri saat dieksekusi menunjukkan sikap kooperatif. “Kami hanya melaksanakan apa yang sudah menjadi putusan pengadilan, sehingga kami membawanya ke Rutan Rowobelang,” tandas Surono. (mg20/ida)