BENAHI KIOS: Jelang ditempati pada 25 Januari mendatang, sejumlah pekerja tengah membangun kios dan lapak di Pasar Rejomulyo Baru, kemarin. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)
BENAHI KIOS: Jelang ditempati pada 25 Januari mendatang, sejumlah pekerja tengah membangun kios dan lapak di Pasar Rejomulyo Baru, kemarin. (Adityo.dwi@radarsemarang.com)

SEMARANG-Sebagian pedagang grosir ikan basah Pasar Rejomulyo Semarang tetap bersikukuh tak mau mengambil undian lapak di pasar baru. Padahal Kamis (19/1) kemarin, merupakan hari terakhir pengambilan undian. Dinas Perdagangan Kota Semarang mengancam jika pedagang tak mengambil undian, akan tidak mendapatkan lapak.

Tetapi sebagian pedagang grosir ikan basah ini tetap tidak mau mengambil undian lapak. Salah satu permasalahan terbesar yang dikhawatirkan pedagang adalah minimnya fasilitas untuk mobil bongkar muat di lokasi bangunan baru yang hanya mampu menampung 5-10 mobil secara bersamaan per jam. Padahal di tempat lama, setiap jamnya terjadi bongkar muat 40 mobil secara bersamaan.

“Jika pasokan ikan tidak bisa bongkar-muat tepat waktu, maka kemungkinan terjadinya ikan membusuk sangat besar. Kami perhitungkan, kerugian per malam (jika hanya bisa bongkar 5-10 mobil per jam) bisa sampai Rp 2 miliar,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PPIB) Pasar Rejomulyo, Mujiburrohman, Kamis (19/1).

Karena itu, ia minta agar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mempertimbangkan dan memberikan solusi untuk permasalahan tersebut. Atas kekhawatiran mengenai persoalan itu, pihaknya bersama sebagaian pedagang ikan basah menyatakan tidak mengambil undian lapak. Meski sebelumnya telah diberikan warning keras oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang bahwa pedagang yang tidak mengambil undian bakal terancam tidak mendapatkan lapak. “Pak Wali perlu melihat langsung kondisi Pasar Rejomulyo lama di malam hari. Kemudian melihat kondisi bangunan baru, agar mengerti dan memahami keluhan kami,” harapnya.
Pasar Rejomulyo, kata dia, terutama grosir ikan basah telah menjadi ikon nasional. Salah satu pasar grosir ikan basah di Indonesia yang mengalahkan Lamongan dan Muara Angke. “Jika dipindah di lokasi baru, kondisi lokasinya jelas tidak memungkinkan. Kalau dipaksakan bisa-bisa bongkar muat dua hari belum selesai. Selama ini, kami berjumlah 66 pedagang ikan basah. Selama 36 tahun swadaya sendiri dan rutin membayar retribusi,” katanya.

Tim advokasi Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Zaenal Abidin Petir mengatakan, pihaknya yakin Wali Kota Semarang akan bersikap bijaksana. “Saya juga meminta teman-teman untuk berkonsultasi langsung dengan wali kota,” ujarnya.

Menurut Zaenal, khusus pedagang ikan basah tidak bisa dipaksakan untuk segera berpindah. Jika dipaksakan, justru kebijakan seperti ini akan membunuh pedagang. “Pedagang akan merugi, jika tidak mendapatkan penanganan bijak, nanti pasti bisnis ikan basah ini mati pelan-pelan. Kondisi bangunan baru memang tidak memungkinkan,” katanya.
Kepala Seksi Penataan dan Pemetaan Dinas Perdagangan Kota Semarang Otaviatmo mengatakan, Kamis (19/1) kemarin, pengundian lapak telah ditutup. Hingga akhir penutupan pengundian lapak, dari 66 pedagang grosir ikan basah, hanya 16 pedagang yang mengambil undian atau 50 pedagang menolak.

“Kalau tidak mengambil undian, maka itu sudah menjadi risiko dari pedagang tersebut. Karena tidak mendapatkan lapak untuk berdagang. Sudah disampaikan sebelumnya, hari ini (kemarin) adalah batas akhir. Kalau tidak mengambil undian, berarti bukan tanggungjawab Dinas Perdagangan,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Fajar Purwoto, menegaskan, pihaknya akan menjalankan tahap demi tahap sesuai rencana. Pada 25 Januari mendatang dilakukan pemindahan pedagang. Apabila masih ada pedagang ikan basah yang belum mau pindah, pihaknya juga tidak mau mempermasalahkannya. “Kami sudah meminta izin dan mengirim surat kepada Pak Wali Kota untuk menindaklanjuti,” katanya.

Ditegaskannya, pedagang yang tidak mau menempati dan memanfaatkan pembangunan pasar baru adalah tanggung jawab pedagang itu sendiri. Apalagi pasar tersebut dibangun menggunakan biaya cukup besar. “Tanggal 25 Januari harus pindah. Selanjutnya akan segera dilakukan pembongkaran Pasar Rejomulyo lama untuk dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH),” tegasnya. (amu/aro)