”Kasus BRT masih berkembang terus. Ya, nanti akan kita lakukan pemanggilan (Joko Umboro Jati). Jangan khawatir, pasti akan kita panggil satu per satu.” Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, Kapolrestabes Semarang

SEMARANG – Mantan pimpinan Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang UPTDTerminal Mangkang, Joko Umboro Jati, akan segera dipanggil penyidik Polrestabes Semarang untuk menjalani pemeriksaan. Umboro diduga mengetahui skandal yang membelit manajemen transportasi masal tersebut. Mulai kasus pencurian 32 ban serep armada bus rapid transit (BRT), penggelapan kaca spion dan lampu BRT, serta dugaan korupsi penyewaan 8 armada BRT senilai Rp 200 juta. Bahkan bisa jadi Umboro akan menjadi tersangka jika polisi mengantongi bukti-bukti kuat.

”Kasus BRT masih berkembang terus. Ya, nanti akan kita lakukan pemanggilan (Joko Umboro Jati). Jangan khawatir, pasti akan kita panggil satu per satu,” tegas Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (18/1) kemarin.

Namun Abiyoso enggan memberikan keterangan pasti terkait jadwal pemanggilan terhadap Joko Umboro Jati. Meskipun demikian, Abiyoso menegaskan bahwa yang bersangkutan (Joko Umboro Jati) bisa jadi tersangka apabila ada bukti kuat.

”Jadi tersangka, bisa saja. Ketika dilakukan pemeriksaan penyidik di sini ternyata memang semuanya kuat, baik alat bukti, saksi, sekaligus perbuatan-perbuatan yang dilakukan sudah memenuhi unsur pidananya,” tegasnya.

Diakuinya, sampai sejauh ini belum ada saksi baru, selain enam orang yang sebelumnya telah diperiksa. Namun pihaknya akan fokus dalam menangani skandal BRT ini. Sehingga aktor utama kasus ini bisa terungkap.

Dikatakan, dari keterangan sejumlah saksi sebelumnya, memang mengarah ke seseorang untuk diambil keterangannya. Namun lagi-lagi Abiyoso enggan menyebutkan nama seseorang tersebut. Dugaan kuat, orang yang dimaksud adalah Joko Umboro Jati. Sebab, saat kasus itu terjadi, Umboro yang menjadi Kepala BLU Trans Semarang. Umboro sendiri sekarang sudah ditarik ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jakarta.

”Kalau ada kesempatan untuk kabur, silakan kabur duluan. Berarti kalau kabur kan menandakan ada sesuatu. Kalau tidak merasa salah, tidak merasa menggelapkan uang, tidak pernah bawa kabur sesuatu, ngapain mesti takut,” ujar kapolrestabes.

Sebelumnya, Joko Umboro Jati saat dikonfirmasi koran ini terkait masalah 8 bus bantuan hibah yang disewakan untuk Koridor III dan IV, mengaku tidak tahu-menahu soal tersebut. ”Disewakan bagaimana ya Mas? Nuwun sewu per 1 Oktober (2016) saya sudah tidak bertugas di BRT Trans Semarang. Saya sekarang bertugas di Kementerian Perhubungan RI. Jadi, saya tidak tahu,” kata Joko.

Seperti pernah diberitakan, aparat Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Semarang terus bekerja keras untuk membongkar kasus dugaan kasus di tubuh BLU Trans Semarang UPTD Terminal Mangkang. Selain telah memeriksa enam saksi yang mengarah pada tersangka, polisi juga terus mengumpulkan alat bukti untuk membongkar otak skandal kasus tersebut.

”Proses penyidikan terus berlanjut. Kami juga terus mengumpulkan alat bukti kasus ini,” ungkap Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko Prasetyo.

Pihaknya mengaku tidak gegabah dalam menangani kasus dugaan pelaporan hilangnya 32 ban serep BRT di Terminal Mangkang, hingga adanya dugaan kasus penggelapan dan dugaan korupsi. Menurutnya, untuk membongkar skandal kasus ini, perlu ketelitian dan waktu yang tidak singkat.

”Ini tindak pidana korupsi, jadi kami membutuhkan waktu untuk menelusuri lebih dalam. Doakan saja mudah-mudahan cepat terungkap,” harapnya. (mha/aro/ce1)