Hutan Rajawali Jadi Destinasi Wisata Baru

1157
GELAR PERKARA : Satreskrim Polres Pekalongan saat melakukan gelar perkara penarikan uang gaib di halaman Mapolres Pekalongan, kemarin. (Taufik.hidayat@radarsemarang.com)
GELAR PERKARA : Satreskrim Polres Pekalongan saat melakukan gelar perkara penarikan uang gaib di halaman Mapolres Pekalongan, kemarin. (Taufik.hidayat@radarsemarang.com)

BATANG-Arus lalu lintas yang padat di jalur pantura, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang mengembangkan Hutan Kota Rajawali yang lokasinya ada di pinggir jalur pantura Kota Batang.

Bahkan, hutan kota yang dipenuhi tanaman pohon jati dan 50 spesies tanaman keras telah menjadi destinasi baru bagi masyarakat Batang. Keberadaan Hutan Rajawali yang strategis di pojok Kota Batang tersebut, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Selain menjadi paru-paru Kota Batang, juga sebagai ruang terbuka hijau di tengah perkotaan yang lalu lintasnya padat. Bahkan, kerap menjadi tempat istirahat bagi para pelancong untuk berhenti dan menarik napas sejenak menikmati kesejukan udara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perkebunan, Djoko Tetuko, mengatakan, bahwa Hutan Kota Rajawali sebelumnya merupakan tanah kosong yang dibudidayakan dengan tanaman jati emas dan 50 jenis tanaman yang dirintis sejak 12 tahun yang lalu oleh Kantor Kehutanan. “Hutan Kota Rajawali ini untuk memberikan ruang terbuka hijau di kawasaan perkotaaan sebagai paru-paru Kota Batang,” terangnya.

Selain itu, Hutan Rajawali yang luasnya 2 hektare dapat difungsikan sebagai tempat untuk bersantai dan tempat olah raga serta edukasi. Karena di Hutan Rajawali sudah dilengkapi sarana prasarana fitnes, joging track, kursi santai dan juga penerangan lampu agar sat malam hari bisa menjadi tempat rekreasi murah di dalam Kota Batang.

“Untuk ketertiban dan kenyamanan, kami sudah membuat papan imbauan untuk menjaga kebersihan, menjaga etika dan sopan santun serta dilarang menangkap dan menembak burung di kawasan hutan kota,” ujar Djoko.

Ke depan, imbuhnya, Pemkab Batang akan menambah wahana-wahana baru seperti rumah pohon. Untuk wahana edukasi Hutan Rajawali juga dilengkapi dengan wahana taman lalu lintas yang bisa digunakan sebagai tempat memberikan pemahaman bagi anak-anak terkait dengan rambu-rambu lalu lintas. Selain itu, dilengkapi tempat pelatihan pembuatan pupuk kompos.

“Sudah banyak anak sekolah yang memanfaatkan Hutan Rajawali sebagai tempat edukasi seperti pengetahuan tentang alam serta rambu-rambu lalu lintas yang sudah ada wahananya,” katanya.

Sementara itu, Netty Wijayanti, 37, warga Perum Pesona Griya yang mengaku sering ke Hutan Rajawali merasa senang bisa bermain bersama keluarga menikmati sejuknya udara untuk menghilangkan penat pikran. “Saya hampir setiap minggu main di Hutan Rajawali. Selain rekreasi sambil momong anak. Disini ada tempat bermain untuk mengenalkan alam kepada anak,” ujarnya.

Nety juga berharap kepada Pemkab Batang untuk terus membangun hutan kota atau taman kota. “Dengan banyaknya taman kota yang dibangun, masyarakat bisa rekreasi murah dan tidak perlu jauh untuk bersenang-senang,” katanya. (mg20/ida)