KERONCONG kerap dianggap musik yang yang kuno atau musiknya orang tua. Tapi, rupanya tidak bagi Nur Asriyani. Gadis yang akrab disapa Inung ini justru memiliki talenta bernyanyi dan segudang prestasi di bidang tarik suara musik keroncong.

”Aku sejak kecil udah ikut les vokal, tapi masih umum, nah baru SMP aku bener-bener terjun ke keroncong dan les vokal keroncong juga,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Seni Musik, Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini.

Gadis kelahiran Banyumas, 28 Maret 1997 ini suka musik keroncong dimulai saat masih kelas 3 SD. Ketika itu, ibunya membelikan CD (compact disc) lagu keroncong yang dinyanyikan oleh anak-anak. Sejak itu, Inung mulai menirukan dan menyukai keroncong. Barulah saat SMP, ia mulai aktif bernyanyi dan menjuarai lomba keroncong antar pelajar SMP-SMA se-Barlingmascakeb yang diadakan oleh RRI Purwokerto.

Event terakhir yang bikin aku seneng dan puas banget waktu nyanyi di acara Gebyar Keroncong yang digelar di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh). Waktu itu, aku bawain lagu Keroncong Tanah Air punya almarhum Kelly Puspito dan berhasil bikin penonon terbawa suasana haru, itu seneng banget. Apalagi ditonton sama Bu Waldjinah juga,” ungkap gadis yang telah tergabung dengan Orkes Gema Kencana Banyumas sejak SMP ini.

Sedangkan dari sekian banyak lomba, menurutnya, yang paling berkesan adalah ketika ia berhasil menjuarai Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) dan mewakili  Jateng dalam Peksiminas yang juga menjadi juara I. Belum lama ini, ia juga mengikuti lomba di Universitas Muhamadiyah Purwokerto, dan menjadi juara I kategori umum usia 17-35 tahun.

”Harapan aku, teman-teman seusiaku dan anak muda yang lain, lestarikan budaya yang kita punya. Karena budaya yang kita punya itu banyak banget, gak harus keroncong, ada juga karawitan, calung dan lain-lain. Setidaknya ngerti lah sama budaya kita sendiri. Syukur-syukur bisa ikut terjun di dalamnya,” ucap Inung yang punya obsesi menjadi penyanyi keroncong profesional dan memiliki album sendiri. (mg26/aro/ce1)