KENDAL—Kasus penganiayaan terhadap santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Selamat terus didalami penyidik Polres Kendal. Usai menetapkan tersangka, penyidik Polres Kendal juga melakukan rekontruksi di lokasi kejadian.

Kapolres Kendal, AKBP Maulana Hamdan melalui Kasatreskrim Polres, AKP Arwansa mengatakan bahwa pihak penyidik telah melakukan rekontruksi. Puluhan adegan dipraktikkan tersangka, mulai dari adu cekcok sampai memukul korban berkali-kali.

Tapi sayangnya, rekontruksi tersebut dilakukan secara tertutup. Awak media dan orang yang tidak berkepentingan terhadap kasus tersebut tidak diperkenankan untuk melihat atau mengikuti jalannya rekontruksi.

“Sengaja rekontruksi kami lalukan secara tertutup. Bahkan rekontruksi kami sembunyikan dari keluarga korban. Mengingat disamping untuk keamanan tersangka dan kelancaran jalannya rekontruksi, alasan lain diantaranya baik korban maupun pelaku masih di bawah umur,” kata Arwansa, kemarin.

Menurutnya, untuk kejahatan yang dilakukan anak-anak, menurutnya, pihak kepolisian memang sebisa mungkin menjaganya. Sebab kejahatan anak-anak memang diatur secara khusus oleh undang-undang. “Kalau saya beber secara kesuluruhan, justru penyidik bisa kena sanksi,” tandasnya.

Perkembangan penyidikan lainnya, lanjut Arwansa pihak penyidik masih mengumpulkan alat bukti lain selain dari keterangan saksi-saksi yang sudah diperiksa. Namun ia memastikan jika penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku MA kepada korban Dimas Khilmi hingga tewas bukanlah tindakan terencana.

Bahwa pertikaian yang terjadi di antara kedua santri itu hanyalah masalah solidaritas sesama santri di Ponpes Modern Selamat. Yakni korban Dimas merasa tidak terima lantaran pelaku MA tidak mendapatkan hukuman karena melakukan pelanggaran kedisiplinan.

“Keduanya sama-sama bertemu bukan di kamar mereka. Kemudian terjadi cekcok dan adu mulut. Setelah itu, keduanya berantem hingga korban Dimas dipukul beberapa kali oleh pelaku hingga akhirnya jatuh dan meninggal,” akunya.

Perihal kepastian penyebab meninggalnya, apakah karena pukulan atau penyebab lain pihaknya saat ini masih menunggu hasil otopsi dari Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Semarang. “Segera setelah kami mendapatkan laporannya, akan kami beritahukan,” tambahnya.

Sementara pemilik Yayasan Pondok Pesantren Selamat, Slamet Soemadyo malah enggan mengakui kelalaiannya dalam mengawasi para santri di asrama. Ia justru menganggap kematian seseorang itu sudah takdir. “Kematian seseorang bisa kapan saja, tidak bisa direncanakan. Seperti halnya, peristiwa perkelahian santri, ini kan spontanitas tidak direncanakan pertengkaran antara anak dan anak,” kata Slamet.

Hal senada dikatakan Kepala SMA, Ari Isnaeni. Ia mengklaim justru keamanan dan pengawasan pondok sudah maksimal. Padahal satu blok asrama ada 12 kamar, dimana setiap kamar diisi delapan santri.

Sementara penjaga keamanan hanya satu orang, dibantu guru, pengasuh pondok, dan wali kamar. Selain itu, peristiwa tersebut terjadi pada saat jam tidur, sehingga menurutnya wajar jika luput dari pemantauan. “Kalau keluarga korban mau menuntut silahkan, kami siap,” tantangnya. (bud/ida)