Akad Nikah di Depan sang Ayah yang Tergolek Sakit

Riski Fandi-Dhevi Dian Puspitasari Menikah di Bangsal RSUP Dr Kariadi

8498
SEMBUH YA AYAH: Riski Fandi dan Dhevi Dian Puspitasari saat menikah di bangsal RSUP Dr Kariadi untuk memberikan kado kebahagiaan kepada ayahanda yang terbaring sakit. (DOKUMEN RSUP DR KARIADI)
SEMBUH YA AYAH: Riski Fandi dan Dhevi Dian Puspitasari saat menikah di bangsal RSUP Dr Kariadi untuk memberikan kado kebahagiaan kepada ayahanda yang terbaring sakit. (DOKUMEN RSUP DR KARIADI)

Dua sejoli ini harus melakukan pernikahan di salah satu bangsal RSUP Dr Kariadi. Keduanya menikah di depan sang ayah yang tergolek sakit. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

SETIAP pasangan tentu ingin mengucapkan ijab kabul di tempat yang sakral. Bisa di rumah, masjid maupun Kantor Urusan Agama (KAU). Tapi, berbeda dengan pasangan Riski Fandi, 30, warga Kesatrian, Jatingaleh, Semarang, dan Dhevi Dian Puspitasari, 27, warga Temanggung. Keduanya terpaksa menikah di salah satu bangsal RSUP Dr Kariadi, Semarang.

Hal ini lantaran orang tua dari sang mempelai pria tergolek lemah dan harus mendapatkan perawatan medis. Keduanya menikah di rumah sakit untuk membesarkan hati ayah Riski, yakni Alifah Sofian, 59, yang tengah dirawat karena menderita kanker paru-paru.

Menurut Riski, sebenarnya rencana pernikahannya dengan Dhevi akan dilangsungkan pada Maret mendatang. Namun melihat kondisi ayahnya yang secara medis sudah tidak bisa sembuh kecuali mendapat mukjizat Allah SWT, maka rencana pernikahan tersebut dipercepat. Akad nikah dilangsungkan pada Minggu (15/1) lalu.

”Prosesi pernikahan harus dipercepat agar ayah saya bisa senang, sejatinya baru akan dilakukan pada bulan Maret nanti,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Prosesi pernikahan yang disaksikan saudara-saudara terdekat dari kedua mempelai berlangsung khidmat. Sama seperti pasangan lainnya yang melakukan akad nikah, mempelai pria mengenakan kemeja warna putih lengkap dengan kopiah. Sementara pasangan perempuan mengenakan baju kebaya warna putih berenda kuning. Keduanya mengucapkan janji suci pernikahan di depan penghulu, disaksikan ayahanda mempelai Riski yang tengah terbaring lemah. Slang infus terpasang di tangan kiri sang ayah.

Isak tangis pecah saat para saksi menyatakan kedua pasangan itu sah menjadi pasangan suami istri. Suasana haru semakin terasa saat kedua mempelai meminta restu kepada ayahanda Riski.

”Kami berharap bisa memberikan kebahagiaan pada bapak di sisa waktunya. Meski demikian, kami juga sangat menginginkan dengan kebagiaan ini bisa mendatangkan mukjizat kesembuhan untuk bapak,” ujar Riski tanpa bisa membendung air matanya.

Humas RSUP Dr Kariadi, Parna, menjelaskan, jika pihak rumah sakit memfasilitasi pernikahan keduanya, karena alasan yang masuk akal, yakni coba membesarkan hati orang tua mempelai pria yang divonis tidak bisa disembuhkan. ”Pihak rumah sakit memfasilitasi, namun pengunjung dan saksi terpaksa dibatasi agar tidak mengganggu pasien lainnya,” ucapnya.

Parna menambahkan, walaupun sudah divonis oleh dokter penyakit dari Alifah Sofian tidak bisa disembuhkan, tim dokter dan pihak keluarga memercayai adanya mukjizat dan yakin atas izin Tuhan YME pasien bisa sembuh. ”Hanya dengan perasaan bahagia dan mukjizat dari Tuhan YME, serta perasaan bahagia semuanya bisa terbalik atau bahkan pasien bisa disembuhkan,” katanya optimistis. (*/aro/ce1)