Bupati Sidak Ponpes Modern Selamat

1355

KENDAL—Kasus perkelahian dua santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Selamat Kendal yang mengakibatkan satu pelajar tewas menjadi perhatian serius Bupati Kendal, Mirna Annisa. Kemarin bersama Dinas Pendidikan, orang nomor satu di Kendal ini melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMA Ponpes Selamat.

Bupati meninjau ruang kelas, asrama siswa, ruang kesehatan santri untuk dilakukan evaluasi. Selain itu, tujuannya ke sekolah untuk berkoordinasi, mengingat ada kabar warga dari Brebes akan menggeruduk Ponpes Selamat.

Dari hasil tinjauannya, beberapa point yang tampak adalah ruang kelas dan lorong kelas yang gelap. Sehingga tidak nyaman untuk belajar. Kebersihan asrama dinilainya juga kurang sehingga perlu diperbaiki.

“Selain itu, di asrama juga belum memiliki dokter. Padahal idealnya untuk masyarakat asrama, seharusnya ada satu dokter. Sehingga ketika terjadi apa-apa pada kesehatan, ada penanggung jawabnya,” katanya.

Mirna juga menilai minimnya keamanan di asrama santri, baik santri perempuan maupun laki-laki. Sehingga ia minta kepada pengasuh pondok agar kemanan asrama diperketat lagi. “Perlu juga dipasang CCTV setiap blok asrama, tujuannya agar kegiatan siswa terutama malam hari terpantau,” tuturnya.

Terkait ada isu warga Brebes yang akan datang, pihaknya akan berusaha membuat suasana di Kendal tetap kondusif. “Kalau bisa dimusyawarahkan secara baik-baik, saya kira itu akan lebih baik. Jadi tidak perlu demo atau anarkis,” tandasnya.

Sementara dari penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kendal masih mendalami kasus tersebut. Kapolres Kendal, AKBP Maulana Hamdan melalui Kasatreskrim AKP Arwansa mengaku pihaknya telah mengantongi satu tersangka yang diduga pelaku utama dalam kasus tersebut, yakni inisial MA, 16.

Selain menetapkan tersangka, pihaknya juga sudah mengantongi barang bukti di antaranya keterangan saksi. Sedikitnya, sudah ada enam saksi yang sudah diperiksa, termasuk keterangan tersangka.

Perihal hasil otopsi, pihaknya saat ini masih menunggu hasilnya dari pihak Rumah Sakit Bhayangkara Semarang. Otopsi untuk mengetahui pasti penyebab kematian korban Dimas Khilmi. “Hasil otopsi secepatnya, maksimal 2-3 hari lagi,” tambahnya.

Perihal gugatan keluarga korban Dimas Khilmi kepada pihak sekolah, Arwansa mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga korban. Sebab dari unit PPA hanya menindak pelakunya saja. “Itu hak keluarga korban, kami tidak bisa ikut campur,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Ponpes Selamat, Ari Isnaeni mengatakan siap jika keluarga korban hendak menggugat pihak sekolah. “Tidak masalah jika keluarga korban mau menggugat. Sebab sejak awal kami kooperatif, bahkan kami yang melapor ke pihak kepolisian,” tandasnya.

Ia menjelaskan jika di Ponpes Modern Selamat, ada 12 blok asrama. Setiap asrama dijaga oleh enam orang yang terdiri atas keamanan, pengasuh, guru, dan wali keamanan. “Ya, kami akan tingkatkan keamanan,” paparnya.

Seperti diberitakan sebelumnya kasus ini bermula pada Kamis malam (12/1) lalu di asrama Ponpes Modern Selamat di Blok I 458 terjadi perkelahian dua santri. Yakni Dimas Khilmi dan Muhammad Alfarizi. Akibatnya Dimas kalah dan tewas di tangan temannya sendiri.

Sementara pihak keluarga korban, meminta agar pelaku dijerat dan dihukum seberat-beratnya. Selain itu, pihak keluarga akan menuntut pihak Yayasan Pondok Modern Selamat. Karena sebagai lembaga pendidikan dinilai lalai dalam mengawasi dan melindungi anak-anak. (bud/ida)