Tak Terbuka, Izin Ponpes Selamat Terancam Dicabut

1583

KENDAL– Kasus pertikaian dua santri yang mengakibatkan salah satu tewas di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Selamat menuai banyak kecaman. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal mengancam akan mengajukan pencambutan izin pendirian dan operasional sekolah, jika pihak sekolah masih enggan terbuka.

Kepala Disdikbud Kendal, Agus Rifai mengatakan pihaknya menyesalkan pertikaian antardua santri sekaligus siswa di SMA Ponpes Selamat terjadi. Apalagi salah satu korban sampai meninggal dunia tanpa diketahui pihak pengurus maupun pengasuh pondok.

“Jelas kasus ini merupakan kelalaian para pengurus pondok. Dua siswa sampai bisa berkelahi dalam asrama. Sementara pihak sekolah masih enggan bicara dan terbuka pada kami,” ujarnya, Minggu (15/1) kemarin.

Sementara itu, pihak pengurus Ponpes Modern Selamat akhirnya buka mulut terkait insiden yang menewaskan siswa sekaligus santri Ponpes, Dimas Khilmi, 18, Kamis (12/1) lalu, di asrama pesantren.

Koordinator SDM Ponpes Modern Selamat, Alif Setiawan mengakui bahwa tempat penganiayaan memang terjadi di asrama putera, Blok I 458. Satu kamar dihuni delapan santri. Saat kejadian, korban Dimas Khilmi-lah yang mendatangi kamar pelaku Muhammad Alfarizi. Jika melihat jam kejadian, saat itu semua penghuni kamar seharusnya bersiap tidur.

Namun Alif mengaku tidak tahu persis, penyebab Dimas dan Alfarizi terlibat cekcok kemudian berkelahi hingga akhirnya korban Dimas terkapar. “Saya tidak tahu bagaimana kondisi Dimas saat usai berkelahi. Sebab oleh anak-anak, korban Dimas sudah digotong ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) setempat,” jelasnya.

Namun Alif mengklaim bahwa saat akan dilarikan ke RSUD dr Soewondo Kendal, korban masih hidup. Namun kondisi korban tidak sadarkan diri alias pingsan. “Saya tidak tahu apakah Dimas meninggal saat perjalanan atau di rumah sakit. Tapi setahu saya, saat masih di pondok korban masih bernafas,” imbuhnya.

Hal senada dikatakan Kepala SMA Pondok Pesantren Modern Selamat, Ari Isnaini. Ia menambahkan, pihak sekolah sudah menghimpun informasi dari keterangan siswa dan rekan korban maupun rekan pelaku. Diduga penyebab perkelahian karena permasalahan kedisiplinan.

Yakni korban merasa ada ketidakadilan, lantaran Alfarizi lolos dari hukuman karena merokok di area pesantren. Sebab empat teman korban yang merokok mendapatkan sanksi dari pihak sekolah.¬†“Dimas kemudian mendatangi pelaku di kamarnya, karena tidak terima MA lolos dari sanksi sekolah. Dari saksi kejadian, perkelahian tersebut berlangsung hanya singkat,” jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Ari, keamanan asrama sudah ketat. Bahkan pihak pesantren sudah memberlakukan aturan larangan santri keluar kamar pada saat jam malam. “Di asrama, di atas pukul 22:00. Bahkan tiap satu jam, petugas keamanan selalu berkeliling asrama untuk mengecek tiap kamar siswa,” akunya.

Namun dengan adanya kejadian tersebut, pihaknya akan memperketat lagi penjagaan jam malam. Selain itu, akan menugaskan penjaga keamanan untuk mengecek asrama tiap setengah jam.

Pemilik Yayasan Pondok Pesantren Selamat, Slamet Soemadyo menambahkan, pada prinsipnya pihaknya akan menyerahkan kasus tersebut pada pihak kepolisian. “Kematian seseorang bisa kapan saja, tidak bisa direncanakan. Seperti halnya, peristiwa perkelahian santri, ini kan spontanitas tidak direncanakan pertengkaran antara anak dan anak,” kata Slamet.

Menurutnya, keamanan dan pengawasan pondok sudah maksimal. Saat kejadian, pelaku mencari tempat yang tidak terpantau.

Sementara Humas RSUD dr Soewondo Kendal, Mochamad Wibowo mengatakan, jika korban dibawa ke RSUD pada Kamis (12/1) sekitar pukul 22.30. Saat itu, korban sudah dalam kedaan meninggal dunia. “Korban sudah meninggal lebih dari 15 menit dengan luka memar di tubuh korban,” paparnya.

Seperti diberitakan sebelumnya pada Kamis (12/1) malam di asrama Ponpes Modern Selamat di Blok I 458 terjadi perkalihian dua santri. Yakni Dimas Khilmi dan Muhammad Alfarizi. Akibatnya Dimas kalah dan akhirnya tewas di tangan temannya sendiri.

Kasus ini sedang didalami Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kendal. Atas persetujuan keluarga korban, mayat korban Dimas akan dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Sementara pihak keluarga, meminta agar pelaku dijerat dan dihukum seberat-beratnya. Selain itu, pihak keluarga juga akan menuntut pihak Yayasan Pondok Modern Selamat. Karena sebagai lembaga pendidikan dinilai lalai dalam mengawasi dan melindungi anak-anak. (bud/ida)