Heri Kristanto
Heri Kristanto

Oleh : Heri Kristantoro, S.Pd,M.Pd

BUMI bukanlah warisan dari nenek moyang kita, melainkan warisan untuk anak cucu kita. Bumi adalah rumah kita bersama. Tempat untuk berbagi kehidupan. Manusia berasal dari tanah dan badan jasmani kita dibentuk dari elemen-elemen bumi. Kita menghirup udara bumi dan menikmati kehidupan dan kesegaran air yang dialirkan oleh ibu bumi. Masalah pangan menjadi tanggungjawab bersama seluruh warga dunia.

Dunia pendidikan memiliki tugas dan peran yang sangat strategis dalam menanamkan budaya cinta lingkungan hidup. Gerakan peduli lingkungan di sekolah dapat diawali dengan perilaku-perilaku sederhana. Peserta didik perlu diajarkan, dibiasakan, dilatih secara konsisten sehingga lambat laun dapat menjadi budaya peduli lingkungan di sekolah. Misalnya, untuk membentuk budaya bersih maka perlu diajarkan bagaimana perilaku hidup bersih, dibiasakan di setiap kegiatan sekolah, dilatih secara terus menerus sampai tercapai budaya hidup bersih. Demikian juga untuk membentuk karakter cinta lingkungan lainnya, 4 tahap tersebut perlu dilakukan.

Sudahkah penanaman karakter cinta lingkungan dilaksanakan di sekolah? Jawabannya bisa sudah maupun belum. Sekolah adiwiyata telah mengimplementasikan gerakan peduli lingkungan. Namun bagi sekolah yang tidak mengarah pada visi peduli lingkungan belum sepenuhnya menanamkan karakter peduli lingkungan. Masih kita temukan perilaku komunitas sekolah yang tidak peduli terhadap lingkungan. Merokok di lingkungan sekolah, membuang sampah di sembarang tempat, menyalakan lampu di siang hari, tidak mematikan kran air, masih mencampurkan sampah organik dan an organik, serta banyak ditemukan peserta didik yang belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah. Fenomena ini disebabkan sekolah kurang menanamkan gerakan mencintai lingkungan.

Seorang filsuf Yunani Socrates mengatakan hal yang paling luar biasa di dunia ini bukannya di mana kita berada dan apa posisi kita. Tetapi yang paling penting adalah kemana kita bergerak. Tidak ada kata terlambat untuk memulai gerakan peduli lingkungan di sekolah. Kita boleh bangga terhadap sekolah yang telah menanamkan karakter peduli lingkungan.

Pendidikan cinta lingkungan yang diterapkan di SD Kalirejo Samigaluh Kulon Progo melalui pertanian organik, SD Prontakan di Sumber dengan sekolah sawah, SMP Negeri 1 Banjarnegara yang mengembangkan sekolah sahabat bumi melalui konseling hati (konservasi lingkungan dan pemanfaatan lahan tidur) , Universitas Negeri Semarang yang menyatakan dirinya sebagai Perguruan Tinggi Konservasi dan masih banyak lagi gerakan lain yang menjadi secercah harapan bagi keutuhan ciptaan. Semua ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi sekolah yang akan mengembangkan gerakan peduli lingkungan.

Sekolah sahabat bumi adalah sekolah yang baik dan ideal dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan, teknologi, norma dan etika yang menjadi dasar manusia menuju kesejahteraan hidup dan keikutsertaan menjaga kelestarian dan keberlangsungan planet bumi. Seluruh perencanaan sekolah diarahkan pada pencapaian visi peduli lingkungan. Penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS) harus berbasis lingkungan terutama untuk mendukung sarana prasarana yang berkaitan dengan gerakan peduli lingkungan seperti pengadaan tempat sampah, pembuatan sumur resapan, alat pengolahan limbah, lahan biopori, kebun biologi, taman tanaman obat keluarga (TOGA), green house, taman burung, kolam budidaya ikan, tempat mading dan pemanfaatan lahan agar bernilai ekonomis. Dengan dukungan dana yang sudah dimasukkan dalam RKAS diharapkan visi sekolah untuk mewujudkan gerakan peduli lingkungan akan tercapai. Dalam bidang kurikulum, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran guru berbasis lingkungan. Diperlukan analisis secara mendalam setiap guru mata pelajaran untuk mengkaji silabus dan RPP masing-masing agar tercapai internalisasi pendidikan karakter peduli lingkungan.

Wujud konkret keberhasilan gerakan peduli lingkungan yang dilaksanakan di sekolah dapat dilihat dari profil sekolah dan aktivitas yang dilakukan oleh komunitas sekolah. Penampilan sekolah semakin hijau, asri, nyaman, sejuk dan indah. Dibedakan tempat sampah organik dan an organik, terdapat sumur resapan, biopori, tempat pengolahan limbah, taman edukasi, hutan sekolah, kolam biologi, taman burung, taman TOGA, budidaya tanaman pangan, budidaya ikan lele, dan green house. Mading sekolah berisi tentang isu-isu lingkungan, baik slogan maupun berita aktual tentang lingkungan. Di setiap kelas ada sudut baca yang merupakan perpustakaan kelas yang disiapkan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan lingkungan. Kegiatan sekolah yang berkaitan dengan gerakan peduli lingkungan adalah program jum’at bersih, menanam pohon di lingkungan sekolah baik di lahan maupun pot setiap peserta didik satu, praktek pengolahan limbah, gerakan menanam dengan sistem hidroponik,dan lomba kebersihan antar kelas. Sekolah secara bertahap dapat menetapkan target untuk mencapai sekolah adiwiyata. Untuk mewujudkan sekolah sahabat bumi diperlukan kerjasama seluruh komponen sekolah. Mengembangkan sekolah sahabat bumi dapat menjadi jawaban nyata kepedulian dunia pendidikan terhadap gerakan mencintai lingkungan. Semoga semakin terjadi harmonisasi antara manusia dan alam ciptaan Tuhan.