Sungai Dangkal, Puluhan Perahu Tak Bisa Melaut

286

KAJEN-Lantaran Sungai Wonokerto dangkal, puluhan perahu yang ada di sepanjang Sungai Wonokerto tak bisa keluar untuk melaut. Akibatnya, ratusan nelayan yang ada di Desa Bebel, Wonokerto dan Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, terpaksa menganggur atau beralih profesi.

Sedangkan nelayan yang bertekad melaut, harus menunggu air pasang datang, sehingga perahu dapat terapung. Kalau tidak begitu, perahu nelayan harus ditarik dengan perahu yang lebih kecil. Namun risikonya luapan air sungai beralih ke jalan, sehingga jalan menjadi rusak karena rob.

Ketua RT 08 Desa Wonokerto Kulon, Rahmat, mengungkapkan bahwa dengan adanya puluhan perahu yang diparkir di sepanjang Sungai Wonokerto, tidak saja menyebabkan rob yang masuk ke desa, namun juga merusak jalan yang baru diaspal, karena Sungai Wonokerto sangat dangkal.

“Dangkalnya Sungai Wonokerto, lebih disebabkan karena banyaknya pasir yang masuk dari muara dermaga TPI Wonokerto dan banyaknya warga penghuni sepanjang sungai yang membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Karena itulah, pihak desa mengajukan surat permohonan normalisasi sungai. “Namun belum pernah ditindaklanjuti oleh Pemkab Pekalongan, akhirnya sungai semakin dangkal seperti ini,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pekalongan, Wiranto, mengatakan bahwa normalisasi sungai selain untuk memudahkan perahu agar bisa kembali melaut, juga untuk mengurangi banjir rob yang disebabkan oleh luapan sungai.

Karena itulah, pihaknya meminta semua nelayan dari 5 desa, sebanyak 600 nelayan dengan 121 perahu untuk tidak memarkirkan perahunya di Sungai Wonokerto. Namun di sepanjang dermaga TPI Wonokerto. “Selama ratusan perahu nelayan masih diparkir di sepanjang sungai, maka pendangkalan air sungai terus terjadi, karena perahu yang masuk ke hulu sedikit banyak ikut membawa pasir dari dermaga, sehingga menumpuk di sepanjang sungai,” ungkap Wiranto.

Menurutnya, harus ada kesadaran bersama antara masyarakat dengan nelayan untuk bisa menjaga lingkungan agar tidak terjadi banjir rob yang disebabkan oleh luapan air sungai, karena perahu yang diparkir di sepanjang sungai.

“Kalau perahu di parkir di demaga, nelayan bisa melaut sewaktu-waktu. Selain itu, masyarakat seharusnya tidak membuang sampah di sungai, agar banjir tidak terjadi,” tegas Wiranto. (thd/ida)