Sarang Pelacuran Penundan dan Banyuputih Ditutup

4059
PERINGATAN : Anggota Satpol PP Batang memasang spanduk berisi Perda Larangan Pelacuran, di dua lokasi Pangkalan Truk di Penundan dan Banyuputih. (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)
PERINGATAN : Anggota Satpol PP Batang memasang spanduk berisi Perda Larangan Pelacuran, di dua lokasi Pangkalan Truk di Penundan dan Banyuputih. (Lutfi.hanafi@radarsemarang.com)

BATANG-Dua pangkalan truk yang menjadi sarang pelacuran di Banyuputih dan Penundan atau jalur Pantura Batang, resmi ditutup oleh petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Batang, Dinas Perhubungan dan Polsek Limpung, Jumat (13/1) kemarin. Setelah beberapa waktu yang lalu membongkar seluruh warung remang-remang yang ada di Dukuh Jentolsari, Desa Surodadi, Kecamatan Gringsing.

Tim gabungan melaksanakan tahap awal penertiban lokalisasi dengan memasang spanduk yang bertuliskan “Pangkalan Truk Ini Ditutup, akan digunakan untuk perencanaan pembangunan kantor Polsek dan Puskesmas Banyuputih“.

Sedangkan dari Satpol PP memasang spanduk yang bertuliskan tentang Peraturan Daerah (Perda) nomor 4 tahun 2015 tentang perubahan atas Perda Kabupaten Batang nomor 6 tahun 2011 tentang pemberantasan pelacuran di wilayah Kabupaten Batang.

Kepala Dishubkominfo Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso, mengatakan, dengan dilaksanakannya pemasangan spanduk yang bertuliskan pangkalan truk ini ditutup, tujuannya adalah akan dialihfungsikan sebagai kantor Polsek dan pembangunan Puskesmas. “Tahap awal kami memasang spanduk pengumuman sebelum dilakukan penertiban pangkalan truk yang selama ini diduga ada prostitusi terselubung,” tutur Wahyu.

Setelah pemasangan spanduk, nantinya akan dilaksanakan penertiban dari tim pemberantasan prostitusi Kabupaten Batang, yang dibagi menjadi 4 bidang, yakni bidang sosialisasi, pendataan, penindakan dan rehabilitasi. Sedangkan untuk Dishubkominfo sendiri masuk bidang sosialisasi dan rehabilitasi.

Selain memasang spanduk, dilakukan pula sosialisasi rencana penutupannya. Selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan pemutusan kontrak di tempat-tempat yang digunakan untuk prostitusi. Rencana ke depan sesuai dengan tata ruang, untuk bekas pangkalan truk di Banyuputih yang seluas 1,8 hektare akan didirikan Puskesmas dan Kantor Polsek Banyuputih. Sedangkan bekas lahan pangkalan truk Penundan seluas 1,1 hektare akan dibuat rest area.

“Kami berharap bisa segera ditindaklanjuti dengan program-program pembangunan. Nantinya, sesuai rencana akan dibangun untuk jalur hijau dan rest area. Dan penutupan ini bisa dilakukan secara berkesinambungan, yakni beberapa bulan ke depan ini sudah menjadi bersih,” tegasnya.

Sementara itu, Dra Suresmi selaku Kasatpol PP, mengatakan, pemasangan spanduk penutupan dan spanduk bertuliskan Perda nomor 4 tahun 2015 ini dalam rangka penutupan lokalisasi terselubung. Dengan menggunakan pendekatan persuasif di pangkalan truk, diharapkan tidak ada permasalahan. Selain memasang spanduk, juga memasang pintu masuk dengan tong maupun drum. “Rencana penutupan dua lokasi ini, sudah sesuai dengan Perda. Selanjutnya, kami melarang truk masuk dan parkir disini lagi,” ujarnya.

Selanjutnya secara bertahap, Satpol bersama Dishub akan mensosialisasikan kepada pemilik warung maupun penghuni untuk pindah. Karena lahan tersebut akan dikembalikan kepada Dinas Perhubungan selaku pemilik lahan. Namun perlu waktu dan tidak serta merta menutup begitu saja.

“Untuk penutupan secara frontal, butuh waktu dan pendekatan persuasif manusiawi kepada pemilik warung maupun PSK agar meninggalkan are di dua lokasi tersebut,” kata kepala Satpol PP perempuan yang baru dilantik ini.

Namun ketika ditanya tentang lokasi parkir truk pengganti, belum ada yang bisa menjawabnya. Sebagaimana yang dikeluhkan oleh salah satu sopir truk, Mujiyanto. Dirinya berserta rekan-rekan sopir truk lain menganggap penutupan pangkalan, karena tidak bisa memecahkan masalah, tetapi menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. “Jika truk dilarang masuk pangkalan, terus mau parkir di mana? Padahal daerah Batang adalah titik jenuh perjalanan darat di jalur Pantura,” sesalnya.

Menurutnya, dengan tidak ada lokasi parkir yang strategis, dikhawatirkan para sopir akan parkir sembarangan di pinggir jalan untuk beristirahat. Yang tentunya semakin banyak, akan membahayakan pengguna jalan lainnya. Hal tersebut terbukti, dalam pantauan baru 2 jam setelah penutupan, puluhan truk telah berjajar parkir di tepi jalan untuk beristirahat.

Sedangkan Pengurus lokalisasi Penundan Yanto, pasrah dengan peraturan tersebut dan mengimbau warganya untuk tetap tenang. “Saya cuma bisa mengimbau agar warga tenang dan menunggu solusi dari pemerintah terhadap nasib kami,” ujarnya. (han/mg20/ida)