Dua Santri Duel di Ponpes Modern Selamat Kendal, Seorang Tewas

1082

KENDAL – Dunia pendidikan dan pesantren di Kendal tercoreng. Dua santri yang berstatus pelajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Selamat terlibat perkelahian hingga salah satunya tewas. Korban tewas diketahui bernama Dimas Khilmi, 18, warga Dukuh Tengah RT 03 RW  04, Desa Batusari Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Dimas menemui ajal setelah duel dengan sesama santri, yakni Muhammad Alfarizi, warga Jalan Pekan Kompleks Griya Pratama 65 Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Keduanya sama-sama siswa kelas XI SMA Pondok Pesantren Modern Selamat.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, kejadian bermula Kamis malam (12/1) sekitar pukul 22.00. Awalnya, korban Dimas datang ke Asrama Blok I No 461, dan meminta teman-temannya untuk memanggil Muhammad Alfarizi. Tujuannya, korban ingin menantang pelaku untuk berkelahi.

Tak gentar dengan tantangan itu, Alfarizi pun mendatangi korban ke Blok I No 461. Begitu bertemu, cekcok mulut pun terjadi hingga berujung pada perkelahian antara dua santri tersebut. Dalam duel maut itu, korban yang bertubuh kecil terkena pukulan tangan kosong sebanyak 2 kali di bagian pelipis muka sebelah kiri.

 Korban pun sempoyongan. Saat kondisi korban sudah tidak berdaya, Alfaraizi melemparnya ke arah tempat tidur. Dalam kondisi tak berdaya, pelaku kembali menghajar korban. Tak hanya itu, korban sempat ditarik  kemudian ditendang pelaku mengenai bagian dadanya.

Tiga korban yang melihat perkelahian itu, yakni Sinar Iman, Mahafirsa dan Risqi Mubarok mencoba melerai keduanya. Pelaku yang sudah gelap mata langsung ditarik. Namun korban yang sudah tidak berdaya mencoba mendatangi pelaku lagi. Tapi, ia langsung jatuh tertelungkup dan mengalami kejang-kejang. Ketiga saksi yang melihat itu, langsung memberikan pertolongan dan meminta bantuan pengurus ponpes.

 Menurut pengakuan ketiga saksi, saat ditolong, korban masih bernapas meskipun sudah tidak sadarkan diri. Selanjutnya oleh pihak Pengurus Ponpes Modern Selamat, korban dibawa ke RSUD dr Soewondo Kendal. Namun sampai di Instalasi Gawat Darurat (IGD ) sekitar pukul 22.30, korban dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis RSUD.

Humas RSUD dr Soewondo, Mochamad Wibowo, mengatakan, saat tiba di ruang IGD, kondisi korban sudah tidak bernyawa. ”Kalau berdasarkan keterangan pengasuh pondok yang mengantarkan korban, katanya terjatuh di asrama dan tidak sadarkan diri,” jelasnya.

Tetapi tidak ada keterangan pasti apakah korban dipukul atau dianiaya hanya dijelaskan bahwa korban terjatuh. Pun perihal jatuhnya korban apakah dari ketinggian atau mengenai benda-benda keras.

Kapolres Kendal AKBP Maualan Hamdan melalui Kasatreskrim Polres Kendal AKP Arwansa mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus perkelahian maut tersebut. ”Ya benar, memang ada perkelahian di Ponpes Modern Selamat yang mengakibatkan salah satu santri meninggal,” katanya.

Dikatakan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan lebih lanjut aparat Reskrim Polres Kendal. Pihaknya mengaku sudah mendatangi lokasi kejadian dan melakukan oleh TKP. ”Kami sudah memeriksa beberapa santri yang mengetahui kejadian tersebut,” ujarnya.

Sayangnya, hingga kemarin pihak ponpes belum berhasil dikonfirmasi. Saat dihubungi lewat telepon selular tidak ada tanggapan. Pun saat didatangi ke ponpes, tidak ada satupun yang bersedia memberikan keterangan.

Ketua Pengurus Cabang (PC) Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kendal, Basyar Rohman, menyesalkan adanya kejadian tersebut. Ia selaku koordinator kumpulan pemilik ponpes di Kendal sangat menyayangkan adanya tindak kekerasan di lingkungan ponpes tersebut.

 ”Ini merupakan pukulan dan tamparan keras bagi dunia pesantren di Kendal ataupun seluruh Indonesia. Sebab, pesantren notabene mengajarkan ilmu agama dan akhlak mulia, harusnya saling menyayangi dan mengasihi,” tuturnya.

Namun yang terjadi di Ponpes Modern Selamat justru sebaliknya. Perilaku santri seperti anak jalanan dan tidak memiliki adab.

Basyar juga menyayangkan kelalaian dari para pengasuh maupun pengurus ponpes terhadap para santri. Sehingga perkelahian yang demikian hebat bisa luput dari pantauan pengurus.

”Ini harus menjadi pembelajaran bagi pesantren setempat agar benar-benar mengawasi para santri. Sebab, mereka adalah amanah yang sudah dititipkan oleh orang tua mereka untuk belajar ilmu agama dan budi pekerti,” katanya.

Selain itu, lanjut Basyar, kejadian ini menjadi pembelajaran bagi seluruh ponpes yang ada di Kendal, mengingat Kendal adalah kota santri yang banyak berdiri ponpes. Tercatat ada 280 ponpes di wilayah Kendal.

”Segera kami dari PC RMI NU Kendal akan melakukan evaluasi dengan melakukan roadshow silaturahmi antarpesantren. Sehingga bisa tumbuh sikap saling menghormati, menghargai, dan muncul akhlak yang mulia. Saling menyayangi di antara santri maupun pengurus ponpes,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Kendal, Ahmad Suyuti, mengaku prihatin dengan kejadian kekerasan di lingkungan lembaga pendidikan tersebut. Seharusnya ada pengawasan yang lebih ketat dari pengasuh pondok pesantren agar kejadian kekerasan tidak terjadi.

Ia meminta aparat penegak hukum memproses kejadian ini agar tidak menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Kendal. ”Saya prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Seharusnya ada pengawasan yang lebih dari pengelola pondok, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi,” ujar Ahmad Suyuti.  (bud/aro/ce1)

BAGIKAN