Teliti UMKM Batik, Raih Gelar Doktor

460

SEMARANG – Ditetapkannya batik sebagai budaya tak wujud warisan manusia asli Indonesia oleh United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2 Oktober 2009 lalu, membuat industri batik mengalami pertumbuhan sebesar 67 persen per tahun. Sekitar 80 persennya masih untuk konsumsi di dalam negeri, sedangkan untuk ekspor masih relatif kecil, yakni di bawah 20 persen.

Seiring dengan banyaknya permintaan produksi ini, maka berkembanglah UMKM yang bergerak di industri batik. Namun, masih banyak kendala yang menghambat pengembangan industri UMKM di dalam negeri, khususnya Jateng dan menjadi bahan penelitian serta dipaparkan oleh Mahmud, dosen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Manajemen Undip Semarang, kemarin. ”Ada dua permasalahan yang mengganjal pelaku UMKM. Di antaranya permasalahan internal dan eksternal,” katanya.

Ia mengangkat judul disertasi ”Membangun Model Keunggulan Memposisikan Atribut Budaya Khas Daerah untuk Meningkatkan Kinerja Pemasaran”. Untuk mendukung penelitiannya, Mahmud menggunakan 325 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Batik di Jateng sebagai sampel. ”Untuk permasalahan internal sendiri di antaranya susahnya mendapatkan bahan baku, upah pekerja yang rendah, hingga keterbatasan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif,” jelasnya.

Menurut dirinya untuk permasalahan eksternal sendiri, mulai dari fluktusasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, hingga masalah perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang masih mengganjal dan membuat UMKM batik tidak berkembang. ”Kesimpulannya, agar lebih berkembang dan bersaing, kondisi perekonomian harus stabil,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan dengan ditelitinya permasalahan yang biasanya menyandung pelaku UMKM, agar bisa bermanfaat bagi pengembangan ilmu pemasaran terutama yang berkaitan dengan kapabilitas inovasi perusahaan dalam meningkatkan kinerja pemasaran. ”Harapannya adalah bisa menjelaskan upaya mengembangkan kapabilitas inovasi yang dimiliki perusahaan dan menjelaskan pengaruh kapabilitas inovasi perusahaan terhadap kinerja pemasaran pada industri batik dalam skala UMKM di Jateng,” harapnya.

Sidang Terbuka Promosi Doktor ini dihadiri Rektor Udinus Prof Dr Ir Edi Noersasongko, MKom, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dr Kusni Ingsih, Dekan FEB Dr Agus Prayitno, serta jajaran dosen Udinus lainnya. ”Kami perkuat jajaran pengajar dengan dosen-dosen yang berkualitas, untuk itu merupakan satu kebanggaan hari ini kami dapat memetik 1 lagi Doktor di bidang Ekonomi untuk Udinus,” kata Edi Noersasongko. (den/ric/ce1)