SEMARANG – Sebagai perusahaan jamu terbesar di Indonesia, PT Sido Muncul tidak segan-segan untuk mengajari industri jamu rumahan untuk membuat jamu sesuai aturan BPOM yakni sesuai dengan CPOTB (cara produksi obat tradisional dengan baik). Hal ini penting agar jamu yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus.

Menurut Irwan Hidayat, membuat jamu yang baik tidak perlu harus menggunakan mesin-mesin modern, tetapi industri jamu rumahan juga bisa membuat jamu dengan baik, asal sesuai ketentuan dari BPOM. “Para perajin jamu harus memperhatikan CPOTB, pemilihan bahan baku yang baik, pengemasan dan pemasarannya. Saya akan akan ajarkan semua,” jelas Irwan yang sangat mencintai jamu, karena jamu merupakan aset negara.

Kehadiran 30 Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo, diundang oleh PT Sido Muncul untuk studi tiru atau untuk melihat langsung proses pembuatan jamu secara CPOTB. Industri jamu ini disambut baik dan langsung mendapat pelatihan proses pembuatan jamu serta pembuataan briket eceng gondok sebagai bahan bakar. “Eceng gondok, kehadirannya memang sangat mengganggu ketersediaan air bersih di Rawa Pening. Untuk itu kami melakukan penelitian dan berhasil membuat eceng gondok sebagai bahan bakar. Briket eceng gondok ini dapat digunakan untuk memasak,” jelas Irwan di hadapan peserta studi tiru.

Menurut Irwan dengan manfaat eceng gondok ini, diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan dan menjadi sumber energi alternatif. Selain itu Rawa Pening menjadi bersih dan dapat dimanfaatkan untuk perikanan maupun wisata air yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.

Pelatihan terhadap industri jamu ini akan terus dilakukan oleh PT Sido Muncul. Bahkan dua minggu ke depan 75 pengusaha jamu dari GP Jamu juga akan belajar membuat jamu dengan sitim CPOTB. “Ini sangat baik, karena dengan banyak belajar, saya yakin Industri jamu akan berkembang dan budaya minum jamu akan kembali menjadi tradisi masyarakat Indonesia,” jelas Irwan.

Sementara itu Kepala Balai Besar POM Semarang Endang Pudjiwati mengungkapkan kegiatan sstufdi tiru ini merupakan pembelajaran bagi usaha kecil obat tradisional. Dipilihnya Sido Muncul ini karena Sido muncul sudah berhasil, sehingga usaha kecil ini bisa meniru dan bisa berkembang dan sukses seperti Sido Muncul. “Dengan belajar di Sido Muncul, saya berharap usaha kecil jamu ini mampu melihat langsung bagaimana cara membuat jamu yang baik. Jadi tidak perlu harus memiliki gedung yang besar dan peralatan yang bagus, namun usaha kecil ini dapat melihat cara membuat jamu dengan bersih dan baik,Jelas Endang.

Dijelaskan saat ini di Jateng ada 14 perusahaan jamu besar, dan 100 industri jamu kecil yang tergabung dalam Kojai. “Kami akan terus melakukan pembinaan terhadap Kojai Jamu , mulai dari pelatihan cara pembuatan jamu yang baik, pengemasan bahkan pemasarannya,” jelas Endang. (tya/smu)