SALATIGA-Angka perceraian di Pengadilan Agama Salatiga cukup tinggi. Selama 2016, tercatat ada 1.457 permohonan maupun gugatan. Sementara sisa tahun sebelumnya ada 333 perkara.

“Rata-rata jumlah perceraian setiap bulan 121-an perkara. Paling tinggi di bulan Agustus (ada) 182 perkara, paling rendah Desember 55 perkara,” kata Ketua PA Salatiga Umar Muchlis melalui Panitera Muda bidang Hukum,Mu’asyarotul Azizah, Kamis (12/1).

Azizah menyebutkan, pihak yang paling banyak mengajukan gugatan cerai adalah perempuan. Alasan biasanya suami kurang bertanggungjawab, hubungan tidak harmonis, timbul percekcokan. Kasus kekerasan dalam rumah tangga juga ada tapi minim.

“Kalau lamanya pengurusan perceraian tergantung para pihak, biasanya kalau ada salah satu pihak yang ingin mempertahankan, maka masih ada upaya hukum lanjutan,” jelasnya.

Untuk proses sidang, lanjut Azizah, semua tergantung kehadiran para pihak. Sidang biasanya dimulai dari jam 09.00. “Untuk jumlah perkara diputus tahun 2016, yang dicabut 81, dikabulkan 1.389, ditolak 6, tidak diterima 8, digugurkan 12 dan yang dicoret dari register ada 7 perlkara,” sebutnya. Dengan demikian, dalam sebulan rata-rata ada 115 janda dan duda baru.

Sementara itu, salah seorang warga Yuliasih mengaku mengajukan gugatan cerai karena suaminya tidak menafkahi lebih dari satu tahun, sementara anaknya masih kecil. Kondisi ini membuatnya mengajukan gugatan cerai. “Sebenarnya yang mau cerai juga siapa mas, tapi kalau tidak pernah dinafkahi, siapa juga yang bersedia bertahan,” kata Yuli singkat. (jks/ton)