Kartu Tani Justru Bebani Petani

2539

DEMAK-Keberadaan kartu tani oleh sebagian petani dinilai justru membuat ruwet dan membebani petani. Untuk mendapatkan pupuk bersubsidi mereka harus memiliki tabungan yang cukup untuk pembelian pupuk yang menjadi jatahnya tersebut.

Padahal, tidak semua petani pada saat butuh pupuk memiliki tabungan uang yang cukup. sebelum ada kartu tersebut, petani dapat ngutang pupuk ke pengecer dan baru dibayar saat panen. Namun, dengan kartu tani ini mereka harus punya uang kontan dulu. Jika tidak punya uang, maka petani otomatis tidak akan dapat pupuk bersubsidi tersebut.

Seorang petani, Sukandar, 42, menuturkan, penggunaan kartu tani memang ada kelebihan dan kekurangan. “Tapi, kasihan petani yang tidak punya uang saat mau beli pupuk,” katanya.

Senada disampaikan, Gozali, 47, petani asal Karangawen. Menurutanya, kartu tani banyak kelemahannya. Dengan kartu tersebut, petani tidak bisa ngutang lagi ke pengecer. Sebab, pengecer saja untuk menebus pupuk ke distributor harus pakai uang tunai. “Jadi, harus membayar cash di bank yang ditunjuk dan harus menunjukkan bukti transfer uang,” ujarnya.

Yang lebih membuat petani pusing ketika mereka tidak menggunakan atau membeli pupuk, uang tabungan untuk beli pupuk di bank melalui sistem kartu tani ini berkurang Rp 10 ribu setiap bulan seperti tabungan biasanya. “Kalau tidak ada penebusan tetap terpotong Rp 10 ribu untuk administrasi,” ujarnya.

Belum lagi persoalan ada pengecer maupun petani yang kebetulan buta huruf sehingga saat transaksi mereka dapat kesulitan dengan kartu tani ini. Petani juga akan kesulitan ketika antre di bank yang bertanggungjawab menyalurkan kartu tani ini. “Kita contohkan, saat kita mau menabung atau mengambil saja di BRI antreannya berjam-jam. Belum lagi jika bank nya offline. Lalu, bagaimana jika petani didaerah pinggiran yang tidak ada sinyal?,” tanya dia. Di wilayah Karangawen misalnya, jumlah petani mencapai 40 ribuan. Jika mereka membayar di bank tentu akan rumit dengan antrean yang panjang serta jumlah bank yang terbatas.

Kepala Dinas Pertanian Pemkab Demak, Wibowo mengatakan, pendistribusian kartu tani oleh bank terkait masih banyak kendala. Ada petani yang harus dipanggil ke bank untuk menerima kartu tani. Ada juga yang diserahkan lewat kelompok tani dan diantar langsung ke rumah petani. Kondisi seperti butuh waktu cukup lama. “Jadi, banyak kendala di lapangan,” katanya.

Menurutnya, jumlah petani Demak sebanyak 68.893 orang dengan luas lahan 44.470 hektare. Dari jumlah itu, kartu tani yang sudah dibagi ke petani baru Rp 15.389 atau sekitar 22,3 persen saja. Artinya, masih banyak kartu yang belum terdistribusikan dengan baik oleh bank BRI.

Kabid sarana prasarana dan penyuluhan Dinas Pertanian, Sri Lestari menyampaikan, alokasi pupuk  subsidi untuk sektor pertanian di Demak pada 2017 ini masih ada kekurangan dan akan dicukupi pada relokasi tambah atau kurang pupuk subsidi pada bulan berjalan 2017.

Menurutnya, kebutuhan pupuk urea mencapai 36.725 ton, ZA 11.250 ton, SP36 12.605 ton, NPK Phonska 17.860 ton dan petroganik 10.805 ton. “Untuk penebusan pupuk subsidi dari petani ke kios pupuk lengkap mulai 2017 sudah pakai kartu tani. Dan, yang belum dapat kartu tani dapat memperolehnya sampai Maret nanti,”katanya. (hib/zal)