BNN Cek Ladang Warga

446

BATANG – Badan Narkotika Nasional (BNN) Batang terus memonitor kemungkinan peredaran ganja, sabu maupun tembakau gorilla alias campuran tembakau dan ganja sintetis di wilayah Pantura Batang dan Pekalongan. Pasalnya, selain berada di perlintasan Jalur Pantura terpadat Pulau Jawa yang rawan penyebaran narkoba, di daerah atas Kabupaten Batang juga terdapat pertanian tembakau milik warga.

Kepala BNN Kabupaten Batang Teguh Budi Santoso mengatakan, peredaran narkoba saat ini sangat mencemaskan. Apalagi hampir setiap waktu ada narkoba jenis baru. Salah satunya tembakau gorilla. Sehingga pihaknya selalu mengantisipasi agar di Batang peredarannya bisa ditekan.

“Kita tak mau kecolongan, makanya terus kita pantau. Baru-baru ini malah ada laporan tentang tanaman ganja di Kecamatan Bawang. Di daerah itu memang ada kebun tembakau petani. Tapi setelah kami cek, tidak kita temukan. Saya bersama tim yang kemarin terjun langsung sampai ke ladang petani di Kecamatan Bawang. Ternyata, informasinya masih sumir,” ucap Teguh.

Begitu juga terkait laporan warga tentang adanya permen narkoba jenis jari-jari yang sempat ramai di kalangan pelajar SD. Ternyata setelah di cek, terbukti tidak mengandung narkoba. BNN juga sudah mendapatkan permen dari pelapor, akan tetapi setelah dilakukan pemeriksaan  ternyata tidak mengandung narkoba.

Teguh juga menuturkan, di perbatasan Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal serta daerah pegunungan Batang, memang masih banyak ditemukan pertanian tembakau. Namun, sejauh pantauan BNN, tidak ditemukan penyimpangan. Meski begitu, sekecil apapun informasi yang masuk, pasti ditindaklanjuti BNN agar tidak kecolongan. Apalagi, pemerintah sedang giat giatnya memberantas narkoba.

“Pasalnya, peredaran narkoba memang semakin merajalela di semua wilayah tanah air. BNN memastikan tidak ada tanaman ganja di wilayah Kabupaten Batang,” katanya.

Sedangkan terkait dengan tembakau gorilla, bahannya bisa dari tembakau biasa yang dicampur bubuk ganja sintetis. Harganya juga lebih terjangkau oleh pelajar dan mahasiswa ketimbang ganja atau sabu. Jika dalam kemasan siap edar, ada beberapa merek seperti Gorila, Ganesha, Nataraja, hingga Hanoman.

Petugas BNN Vida Rudiyanti menjelaskan, bentuk tembakau gorilla mirip tembakau biasa. Biasanya, berwarna cokelat, kadang bentuk serbuk, kadang lebih halus, seperti tembakau lintingan. Biasanya, tembakau gorilla dijual melalui media sosial. Tembakau gorilla ini bisa membuat penikmatnya mengalami efek seperti tertimpa gorilla alias tak bisa menggerakkan tubuhnya. Efek samping sementara, tembakau ini membuat penggunanya delusi atau halusinasi.

“Selain itu, menyebabkan gangguan saraf (tremor) dengan ciri-ciri tangan gemetar, berkeringat dan kesemutan,” terang Vida.

Mulai Januari 2017, pengguna dan penjual tembakau gorilla sudah bisa dijerat pidana dengan UU Narkotika. Selain melakukan pemantauan secara konvensional, Tim BNN Batang juga memelototi media sosial. Sebab, media sosial masih jadi favorit penjualan tembakau gorilla maupun narkoba lainya.

Sedangkan narkoba jenis baru yang pernah ditemukan di wilayah Kabupaten Batang, adalah semprotan spray mengandung narkoba dengan korban anak SD di wilayah Kecamatan Pecalungan. Dan hal tersebut sudah ditindaklanjuti oleh BNN dan dilakukan antisipasi.

“BNN berharap, warga bisa memberikan informasi yang valid jika menemukan kegiatan jual beli narkoba jenis apapun. Sehingga mendukung upaya kita dalam pemberantasan Narkoba. Kami juga siapkan hadiah untuk laporan dari warga yang benar benar valid,” pungkas Teguh Budi S. (mg20/ric)