Sudah sejak 10 tahun silam, pemilik warung soto ini rutin menggratiskan sebagian dagangannya setiap Jumat. Anehnya, bukannya merugi, tetapi pedagang ini justru mengaku untung. Seperti apa kisahnya?

ABDUL MUGHIS 

BELUM banyak orang tahu, sebuah warung kuliner yang terletak di Jalan Simpang, tepatnya di gang masuk samping DP Mall Jalan Pemuda Semarang, terdapat sebuah warung sederhana yang menyimpan keunikan tersendiri. Bagaimana tidak, di tengah pertumbuhan bisnis yang membuat harga-harga kebutuhan melambung tinggi, warung ini justru menggratiskan soto setiap Jumat.

Warung tersebut bernama Soto Seger Lawang Sewu. Lokasinya agak tersembunyi, karena masuk ke dalam gang. Tidak jauh, hanya kurang lebih 50 meter dari mulut gang Jalan Pemuda Semarang. Dinamakan Soto Seger Lawang Sewu, karena letaknya tak jauh dari Gedung Lawang Sewu. Tak jarang, wisatawan Lawang Sewu yang berjalan keliling hingga gang tersebut, mampir untuk mencicipi soto di warung milik Emy Sulistiyati, 45, tersebut.

Emy mengaku merintis warung soto tersebut sejak 2007. Kegigihannya dalam mengelola bisnis kuliner ini tak lepas dari dorongan suaminya, Aiptu Suprapto, 45, yang saat ini bertugas sebagai Panit Provost, Propam Polrestabes Semarang.

Ia memang telah lama menerapkan budaya sedekah dalam setiap aktivitas bekerja maupun bisnis. Bahkan sejak kali pertama warung berdiri, Emy telah memulai budaya sedekah. Ia menyebutnya dengan istilah ”Jumat Berkah”.

”Sudah sejak awal. Tapi dulu berupa nasi bungkus. Setiap Jumat kami sediakan secara gratis. Setiap pengunjung yang datang bisa ambil sendiri,” kata Emy saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (12/1) kemarin.

Tidak hanya para pekerja di sekitar lokasi warung, anak-anak maupun pengendara yang melintas penasaran. Mereka kemudian menyambangi warung tersebut dan mengambil nasi bungkus gratis. ”Itu berlangsung kurang lebih satu tahun,” kenangnya.

Namun dalam perkembangannya, nasi bungkus tersebut dirasa kurang praktis. Sebab, warungnya menjual soto. ”Saya sama suami berpikir biar lebih praktis ya yang ada saja (soto, Red). Selanjutnya kami berikan soto gratis setiap Jumat. Tak terasa, sampai sekarang sudah berjalan kurang lebih 10 tahun,” katanya.

Sampai sekarang, budaya ’Jumat Berkah’ tetap konsisten dilakukan. Bahkan ia bersama suaminya telah yakin dan mantap akan menggratiskan soto di setiap Jumat hingga kapanpun. Emy juga mengaku tidak ada alasan lain selain ikhlas berbagi.

”Karena sudah diniati. Sebab, sebagian rezeki kita bukan hak kita, melainkan untuk orang lain. Selain itu juga sebagai wujud syukur atas nikmat yang selama ini diberikan oleh Allah SWT. Sedekah kan tabungan sebenarnya,” ucap ibu empat anak yang tinggal di Jalan Pusponjolo Timur IV, Kelurahan Cabean, Semarang Barat ini.

Setiap hari, warung soto miliknya cukup ramai dikunjungi pembeli. Sampai sekarang, ia dibantu oleh empat karyawan. Selain karyawan kantor dan pusat perbelanjaan di kawasan itu, pembelinya juga dari kalangan wisatawan yang mengunjungi objek wisata Lawang Sewu.

”Meski telah diberi tulisan ’Soto Gratis Setiap Jumat’, ada juga pembeli yang tidak percaya. Mereka ngotot ingin membayar. Saya bilang ’ini benar gratis’, saya tetap menolak dibayar. Karena memang gratis,” katanya.

Banyak pembeli bertanya, apakah tidak rugi? Tidak. Justru, lanjut Emy, selama menggratiskan sebagian dagangan, tidak pernah penghasilan atau omzetnya berkurang. Baik digratiskan pada Jumat maupun di hari biasa (tidak gratis), penghasilan tetap sama. Bahkan secara umum malah untung.

”Pemasukan tidak berkurang, kadang malah lebih. Maka, saya selalu bilang nggak usah terlalu kebanyakan itung-itungan. Kalau kita kebanyakan itung-itungan malah bingung,” ujarnya.

Emy yakin, Tuhan memiliki peran dalam soal penghitungan-penghitungan tersebut. Ia bersama suami mengaku lebih menekankan nilai kejujuran dan keikhlasan. Selebihnya diserahkan kepada Allah SWT. ”Kalau saya lagi repot, suami yang belanja pukul 04.30. Pukul 05.30 sampai rumah, terus berangkat tugas,” katanya.

Hingga saat ini, ia memiliki dua warung soto. Namun warung yang lain, yakni di Jalan Pusponjolo Timur, belum menerapkan sistem ”Jumat Berkah”. Perkembangannya, warung soto tersebut dilengkapi menu lain yang lebih komplet. ”Karena lokasinya dekat dengan perkantoran, akhirnya kami menambah menu. Nasi rames dan ayam bakar, karena menyesuaikan kebutuhan pelanggan,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini Jumat dipercaya sebagai hari istimewa dalam Islam. Sehingga hari tersebut dimanfaatkan untuk berucap syukur dengan cara bersedekah semampunya. ”Dengan hati yang ikhlas, mudah-mudahan doa-doa kita lebih mustajab,” katanya.

Salah satu pekerjanya, Imam, menambahkan, warung tersebut buka mulai pukul 07.00 hingga 16.00. ”Banyak pembeli yang datang dari luar kota, seperti Solo, Magelang dan lain-lain. Mereka merupakan wisatawan yang berkunjung di Lawang Sewu. Gang tersebut memang sering dilintasi pejalan kaki. Jadi, cukup ramai. Apalagi kalau pas liburan,” ujarnya.

Dikatakan, ada juga pembeli yang semula datang sendirian, di lain kesempatan mereka datang bersama rombongan secara ramai-ramai. ”Selama persediaan masih ada, semua gratis. Tapi ada juga orang yang datang, tapi sotonya sudah habis,” katanya. (*/aro/ce1)