RUMAH ASPIRASI: Ketua DPC PDIP Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha (kiri) saat memotong tumpeng sebagai simbolis perayaan hari jadi PDIP ke 44 di kantor DPC, kemarin. (eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
RUMAH ASPIRASI: Ketua DPC PDIP Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha (kiri) saat memotong tumpeng sebagai simbolis perayaan hari jadi PDIP ke 44 di kantor DPC, kemarin. (eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN – Pola pengelolaan keuangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Semarang saat ini masih tradisional. Sehingga membuat UMKM sulit berkembang. Bank Jateng Kantor Cabang Ungaran mencoba mengubah pola peengelolaan keuangan dengan memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM.

“Kita lakukan nantinya setiap bulan sekali di seluruh kecamatan di Kabupaten Semarang,” ujar Kepala Bank Jateng Kantor Cabang Ungaran, Ismanto usai memberikan pelatihan pengelolaan keuangan UMKM di Desa Regunung Kabupaten Semarang, Kamis (12/1).

Pelatihan yang diikuti 30 peserta tersebut tidak hanya berasal dari lokal, namun juga luar Kabupaten Semarang. Menurut Ismanto pelaku UMKM masih belum bisa membedakan antara modal dan keuangan pribadi.

Banyak dari pelaku UMKM yang merugi akibat kesalahan dalam pengelolaan keuangan tersebut. Alhasil, UMKM tidak berkembang dan bahkan mati. “Kebiasaan para pelaku UMKM yang masih belum bisa mengelola keuangan yaitu mencampur adukkan antara uang modal, dan uang pribadi. Jadi pengembangannya sulit,” tuturnya.

Latar belakang usaha peserta dalam pelatihan tersebut berbeda-beda. Antara lain pelaku usaha peternakan, pemilik rumah makan, penjual pakaian.

Muhammad Choliq salahsatunya. Pria paruh baya tersebut dalam sehari-hari mengelola UMKM dari kelompok peternak kambing di Desa Regunung. Ia mengakui jika pengelolaan keuangan masih bersifat tradisional. Artinya, antara uang yang masuk dan yang keluar tidak tercantum dalam catatan keuangan kelompok usaha.

“Tadinya, saya pikir saya selalu laba. Setelah diberikan simulasi pengelolaan keuangan ternyata laba saya terlalu kecil jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan,” ujar Choliq.

Peserta nampak antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut. Mereka saling interaksi antar satu sama lain. “Ini (pengelolaan keuangan) merupakan hal yang baru bagi kita,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut para pelaku UMKM diberikan simulasi bagaimana mengelola modal, laba, dan mendiversifikasikan usaha. Sebagian besar peserta, belum begitu memahami terkait dengan diversifikasi usaha dari yang mereka lakukan. “Saya baru tahu ternyata, kambing bisa dimanfaatkan susunya untuk dijual. Selama ini hanya penggemukan saja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Tim Analis Kredit Bank Jateng Cabang Ungaran Juneidi mengatakan saat ini prosentasi UMKM di Kabupaten Semarang yang dibiayai perbankan baru 55 persen. Dalam simulasi pengelolaan keuangan UMKM tersebut, pihaknya juga akan bersosialisasi bagaimana mendapatkan kredit usaha di Bank Jateng Cabang Ungaran. “Sebenarnya prospek ke depan, untuk UMKM di Kabupaten Semarang sangat bagus, namun masih butuh sentuhan,” katanya.

Menurutnya, pihak perbankan harus ikut proaktif dalam usaha pembangunan UMKM di daerah. Dengan baiknya pengelolaan keuangan dalam UMKM akan jadi modal kepercayaan untuk perbankan agar mengucurkan kredit kepada mereka. (ewb/zal)