4 Tahun Kasus Dugaan Penipuan Jalan di Tempat

342

SEMARANG – Salah satu pemegang saham perusahaan PT Albeta Wijaya, Kristina Setiawati, selaku pihak pelapor mempertanyakan kejelasan kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang telah dilaporkannya pada 14 Januari 2013, teregister LP/B/19/I/2013/Jateng/Reskrimum, di  Polda Jateng.

”Saat itu yang melaporkan kasus tersebut adalah Suhardi, yang juga dari PT Albeta Wijaya. Laporannya dugaan penipuan dan penggelapan sebesar Rp 500 juta kepada kami,” terang Kristina Setiawati, kemarin.

Dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan tersebut dilakukan oleh petinggi salah perusahaan swasta di daerah Genuk Semarang, berinisial RT, dari PT Janico Raya. Bahkan, kasus dugaan tersebut juga telah sampai di Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) hingga akhirnya turun tangan setelah mendapat pengaduan tersebut.

Kristina yang membawa kuasa hukumnya, Theodorus Yosep Parera juga menegaskan kasus ini sudah berjalan empat tahun dan pihak penyidik sudah menetapkan tersangkanya. Namun demikian, hingga saat ini belum ada kejelasan progres penanganan kasus tersebut.

”RT ini sudah ditetapkan sebagai tersangka namun tidak pernah hadir memenuhi panggilan penyidik. Diduga ada mafia hukum di sini,” ujar Kristina menduga.

Sementara Yosep Parera menjelaskan, kasus ini berawal ketika PT Albeta Wijaya melakukan pemesanan kayu sebanyak 3.500 meter kubik dari Kalimantan pada 2012 silam. Sesuai perjanjian kayu pesanan tersebut dikirim oleh RT dan telah dilakukan pembayaran.

”Pengiriman akan dilakukan oleh RT, dari perusahaan penyedia kayu PT Janico Raya. Klien saya sudah menandatangani surat perjanjian biaya pengiriman Rp 1 miliar dan sudah langsung dibayar setengahnya melalui transfer,” katanya.

Namun dalam perjalanannya, kayu yang akhirnya dikirim ke Semarang itu tidak diserahkan ke PT Albeta Wijaya. Menurutnya, tidak ada iktikad baik dari RT untuk menyerahkan kayu atau mengembalikan Rp 500 juta yang telah dibayarkan. ”Bukti transfernya juga ada. Maka kami minta laporan penggelapan tersebut segera ditindaklanjuti,” katanya.

Lambatnya penanganan kasus ini, pihaknya mengadu ke Kompolnas dan sudah menerima jawaban dari Kompolnas pada Jumat (6/1) kemarin.  ”Keterangan Kompolnas, Polda Jawa Tengah berikan pelayanan buruk. Ini juga kami berkirim surat ke Kapolda Jawa Tengah agar perkara ini segera ditindaklanjuti. Surat sudah kami kirimkan kemarin,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova, menyebut pelaporan tersebut masih ditindaklanjuti. Penanganan kasus ini sudah sampai proses penyidikan namun belum menetapkan tersangka. ”Kita telah memeriksa 11 saksi, termasuk saksi ahli hukum pidana. Kita masih membutuhkan beberapa saksi lagi untuk lengkapi berkas. Terlapor sudah dipanggil untuk dipanggil, belum hadir,” jelasnya.

Namun demikian, penyidik juga akan mengeluarkan surat penjemputan paksa apabila bersangkutan tidak akan hadir. ”Tentunya bilamana panggilan selanjutnya tidak hadir, maka akan disertakan surat membawa (jemput paksa). Jika sudah ada alat bukti kuat dan ada indikasi penipuan penggelapan, dilakukan gelar, dan ditetapkan tersangka,” tegasnya. (mha/zal/ce1)